kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   20.000   0,73%
  • USD/IDR 17.900   47,00   0,26%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Pelemahan Rupiah Belum Dongkrak Kunjungan Wisatawan Asing, Ini Kata Asita


Jumat, 29 Mei 2026 / 17:32 WIB
Pelemahan Rupiah Belum Dongkrak Kunjungan Wisatawan Asing, Ini Kata Asita
ILUSTRASI. Meski rupiah anjlok, lonjakan wisatawan asing belum signifikan.


Reporter: Vina Elvira | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing berpotensi menjadi katalis positif bagi industri pariwisata Indonesia, terutama dalam menarik lebih banyak wisatawan mancanegara (wisman). Namun hingga saat ini, dampak positif tersebut dinilai belum sepenuhnya terasa signifikan di lapangan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Budijanto Ardiansjah menyampaikan, memang terdapat peningkatan permintaan dari sisi inbound tourism, namun realisasinya masih terbatas.

"Ada kenaikan tapi belum signifikan. Kelihatannya pelemahan rupiah terhadap valas masih belum dimanfaatkan dengan baik oleh pelaku pasar," ujar Budijanto kepada KONTAN, Jumat (29/5/2026).

Baca Juga: Mebiso App Dorong Perlindungan Merek UMKM melalui Platform Digital

Menurutnya, secara teori pelemahan rupiah seharusnya membuat Indonesia menjadi destinasi yang relatif lebih murah bagi wisatawan asing sehingga dapat meningkatkan daya tarik kunjungan.

Dengan demikian, jika dikelola dengan baik, kondisi ini dapat menjadi dorongan bagi peningkatan jumlah wisman ke Indonesia. 

Namun realitasnya, peningkatan aktivitas inbound tourism saat ini belum cukup kuat untuk memberikan lonjakan berarti terhadap aktivitas industri secara keseluruhan.

Ke depan, Budijanto bilang, prospek industri pariwisata hingga akhir 2026 masih terbuka, meski tetap dibayangi ketidakpastian global dan dinamika geopolitik. Dalam kondisi tersebut, pasar regional dinilai menjadi fokus yang lebih realistis.

"Dalam situasi geopolitik yang tidak menentu, pilihan market dalam satu kawasan seperti Asia menjadi pilihan yang lebih aman dan prospektif," jelasnya.

Di sisi lain, tantangan industri pariwisata saat ini tidak hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga kemampuan pelaku industri dalam mengalihkan fokus pasar dan menangkap peluang baru.

“Target pertumbuhan tetap sesuai koridor yang dicanangkan pemerintah yaitu pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan," tutup Budijanto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×