kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Pendapatan Bakrie Sumatra Plantations (UNSP) naik didorong produk oleokimia


Jumat, 23 Agustus 2019 / 19:25 WIB

Pendapatan Bakrie Sumatra Plantations (UNSP) naik didorong produk oleokimia


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP) baru saja memulai produksi oleokimia di awal tahun ini. Berkat produk turunan sawit tersebut, topline perseroan naik dengan signifikan.

Produksi oleokimia dioperasikan oleh pabrik Domba Mas yang telah diakuisisi UNSP lewat anak usahanya yaitu PT Nibung Arthamulia. Andi Setianto, Direktur UNSP bilang bahwa pinjaman sebesar Rp 623,35 miliar yang diperoleh Nibung langsung digunakan sebagai biaya modal operasi pabrik oleokimia Domba Mas tersebut.

"Hasilnya positif dengan kontribusi yang baik di oleokimia," ujarnya ditemui usai Rapat Umum Pemegang Saham perseroan, Jumat (23/8). Terbukti sampai semester-I 2019 segmen bisnis oleokimi menyumbang 33% dari revenue saat itu atau senilai Rp 310,47 miliar.

Baca Juga: Permintaan minyak sawit (CPO) melesat saat produksi menurun karena musim kemarau

Saat ini pabrikan oleokimia UNSP baru memproduksi jenis acid-1 dengan kapasitas produksi 300 ton per hari atau 9.000 ton per bulan. Produk oleokimia tersebut telah mendapatkan pelanggan yakni Procter & Gamble (P&G) International sebuah perusahaan consumer goods.

Penjualan ke P&G menyumbang 17,52% dari revenue di semester I-2019 atau senilai Rp 160,54 miliar. Adapun pendapatan bersih perseroan tercatat sebesar Rp 916,3 miliar di semester I-2019 atau naik 45% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 630,69 miliar.

Beban pokok penjualan UNSP juga terkerek naik 92% year on year (yoy) menjadi Rp 887,63 miliar di paruh pertama tahun ini. Alhasil laba kotor perseroan merosot 83% dari Rp 168,95 miliar di semester-I 2018 menjadi Rp 28,66 miliar di semester I-2019.

Pos beban lainnya terus menggerus perolehan bottomline perusahaan. Namun UNSP mendapatkan keuntungan dari selisih kurs Rp 264,35 miliar di paruh pertama ini, dimana pada periode yang sama tahun lalu perusahaan mencetakkan rugi selisih kurs hingga Rp 642,67 miliar.

Baca Juga: Menko Luhut akan laporkan hasil temuan BPK tentang sawit ke presiden

Sehingga bottomline dapat terkatrol meskipun masih negatif. Sepanjang enam bulan pertama tahun 2019 ini rugi bersih tercatat Rp 45,81 miliar dimana pada periode sama tahun lalu  rugi mencapai Rp 611,67 miliar.

Segmen kelapa sawit dan turunannya masih mendominasi penjualan sebanyak 81% dari total revenue di semester I-2019. Lini bisnis ini dapat tumbuh 69% year on year (yoy) di paruh pertama tahun ini menjadi Rp 746,95 miliar.

Sedangkan lini bisnis karet menurun 10% dari Rp 176,57 miliar di kuartal II tahun ini menjadi Rp 158,82 di kuartal yang sama tahun kemarin.


Reporter: Agung Hidayat

Video Pilihan


Close [X]
×