kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.652.000   21.000   0,80%
  • USD/IDR 16.878   8,00   0,05%
  • IDX 8.885   -52,03   -0,58%
  • KOMPAS100 1.226   -2,75   -0,22%
  • LQ45 867   -1,47   -0,17%
  • ISSI 324   0,11   0,04%
  • IDX30 441   1,22   0,28%
  • IDXHIDIV20 520   3,38   0,65%
  • IDX80 136   -0,29   -0,21%
  • IDXV30 144   0,32   0,22%
  • IDXQ30 142   1,10   0,79%

Pengamat: Mobil Amrik pernah jaya di Indonesia


Minggu, 01 Maret 2015 / 15:47 WIB
Pengamat: Mobil Amrik pernah jaya di Indonesia
ILUSTRASI. Rekomendasi kost eksklusif dan premium di Jakarta dari Rukita.


Reporter: Benediktus Krisna Yogatama | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Pamor General Motors (GM) di Indonesia terus meredup. Puncaknya paska kalah bersaing dengan pabrikan Jepang di segmen multi purpose vehicle (MPV) dan mengumumkan berhenti memproduksi mobil di Indonesia pada Juni 2015 nanti.

Meski begitu, dimata Soehari Sargo, pengamat otomotif mengatakan pada era 1950-1970-an mobil Amerika pernah merajai paar otomotif Indonesia. "Dulu banyak mobil Eropa dan Amerika, seperti Fiat, Ford, sekarang jumlahnya tidak seberapa besar dibandingkan mobil produsen Jepang," ujar Soehari pada KONTAN, Jumat (27/2).

Menurut Soehari, pelecut penurunan tersebut dimulai pada tahun 1960-an, dimana Soekarno Presiden Indonesia kala itu, memiliki sentimen dengan dunia barat. Hal tupun berdampak pada penjualan mobil.

Di sisi lain, produsen Jepang pintar membaca kebutuhan pasar Indonesia. “Orang Indonesia tidak cocok dengan mobil Amerika yang besar-besar karena orang Amerika badannya besar, sedangkan badan orang Indonesia lebih kecil,” katanya.

Berbeda dengan mobil Eropa dan Amerika yang lebih mengutamakan standarisasi di negeri asalnya untuk dipaksakan di jual di Indonesia. Sebut saja seperti sunroof yang dinilai tidak cocok di pasangkan di mobil-mobil di Indonesia. Sebab matahari memancar terus sepanjang tahun.

Berbeda dengan Jepang yang membuat mobil sesuai kebutuhan konsumen di negeri dimana dia menjajakan produknya. Seperti ukurannya disesuaikan dengan badan dan kondisi ekonomi daya beli masyarakat.

"Ternyata langkah mereka berhasil, mobil terus laku. Otomotif Jepang terus menambah investasi terus berkembang hingga saat ini," ujar Soehari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×