kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Pengusaha lokal minta diprioritaskan dalam dual FEED dan EPC di blok Masela


Senin, 09 Desember 2019 / 15:23 WIB
Pengusaha lokal minta diprioritaskan dalam dual FEED dan EPC di blok Masela
ILUSTRASI. Pengunjung berada di salah satu stand saat berlangsungnya acara Indonesian Petroleum Association (IPA) Convention and Exhibition ke-41 Tahun 2017 di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Kamis (18/5/2017). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN

Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. SKK Migas diminta untuk memprioritaskan lead consortium di-handle oleh perusahaan lokal saat dual Front Engineering End Design (FEED) dan EPC untuk Kilang LNG dan Floating Production Storage & Offloading (FPSO) di proyek Lapangan Gas Abadi blok Masela, Laut Timor,Maluku.

Pasalnya, Direktur Eksekutif Gabungan Asosiasi Usaha Penunjang Energi dan Migas (Guspenmigas) Kamaluddin Hasyim menyebut pihaknya mendapat kabar bahwa SKK Migas meminta lead consortium-nya bukan dari perusahaan lokal namun mengedepankan perusahaan internasional ketimbang dalam negeri Indonesia.

Baca Juga: Anjlok 57,67%, kontrak baru Adhi Karya (ADHI) hingga November 2019 baru Rp 9,1 T

Diharapkan pejabat SKK Migas  yang mengerti aturan tentang PTK 007.dan sudah adanya PP No.29 tahun 2018,  Dimana aturan itu mengedepankan perusahaan lokal dan barang wajib sebagai lead consortium.

"Itu sebabnya kami meminta SKK Migas jangan setengah hati mendukung P3DN di project Masela dan project-project lainnya di lingkup migas," kata Kamaluddin Hasyim dalam keterangan pers,Senin (9/12).

Guspenmigas mendapatkan informasi bahwa lelang pra kualifikasi FEED di proyek Kilang LNG Masela memilih konsorsium project dengan lead-nya perusahaan asing. Padahal, secara portofolio kemampuan perusahaan dalam negeri Indonesia sudah sederajat dengan perusahaan asing.

"Saya mengingatkan dan mengharapkan ke K3S Inpex, semua Barang dan Jasa.  yang ditawarkan oleh anggota Guspenmigas wajib bisa masuk ke proyek Masela. Kenapa? Karena Anggota Asosiasi dan perusahaan  yang sudah berpengalaman diberbagai proyek. LNG Tangguh, Badak, Arun, dan  sudah pernah kita kerjakan dan dipakai barangnya. Sedangkan untuk  Kilang RDMP kita sedang berproses untuk dikerjakan, dan di-supply barangnya atas dasar  pengalaman dan kemampuan di Indonesia," jelas Kamaluddin.

Baca Juga: IATMI: Skema bagi hasil migas harus menarik dan fleksibel

Para anggota Guspenmigas yang adalah GAPENRI (Gabungan Perusahaan Nasional Rancang Bangun Indonesia), INKINDO (Ikatan Nasional Konsultan Indonesia), APTINDO (Asosiasi Perusahaan Inspeksi Teknik Indonesia), APMI (Asosiasi Pemboran Migas Indonesia), APROPIPE (Asosiasi Produsen Pipa Pemboran Migas Indonesia), APWI (Asosiasi Produsen Wellhead Indonesia).

Lalu GAPIPA (Himpunan Pabrik Pipa Baja Seluruh Indonesia), INSA (Indonesia Nasional Shipowner’s Association), APROKIP (Asosiasi Produsen Kimia Penunjang Migas), INPEMIGAS (Asosiasi Industri Penunjang Migas), ASMETI (Asosiasi Sistem Metering Indonesia), APCI (Asosiasi Produsen Cat Indonesia).

Selanjutnya IISIA  (The Indonesian Iron and Steel Industry Association), APPAI  (Asosiasi Produsen Pompa Angguk Indonesia), APPCI (Association Personal Protective Clothing Indonesia) dan AFABI (Asosiasi Fabrikator Indonesia).

Baca Juga: Begini strategi Mitrabara Adiperdana (MBAP) perbaiki kinerja di sisa tahun ini




TERBARU

Close [X]
×