kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Penjualan Dharma Samudera Fishing tumbuh Tipis


Senin, 31 Oktober 2016 / 07:05 WIB
 Penjualan Dharma Samudera Fishing tumbuh Tipis


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menghentikan sementara kapal ikan dengan ukuran besar beroperasi berdampak pada sejumlah Unit Pengolahan Ikan (UPI) dalam negeri.

Sejumlah UPI yang selama ini mendapatkan pasokan dari kapal ikan besar, beralih memasok ikan dari tangkapan nelayan kecil. Otomatis terjadi perebutan pasar yang mendorong kenaikan harga ikan di tingkat nelayan karena pasokan terbatas.

PT Dharma Samudera Fishing industries Tbk (DSFI) merupakan salah satu produsen ikan olahan yang berorientasi ekspor membukukan peningkatan penjualan tipis pada kuartal ke III 2016. DSFI mencatat ada kenaikan nilai penjualan sekitar 1% dari periode sama tahun lalu.

Director and Corporate Secretary DSFI Saut Marbun mengatakan penjualan perusahaan ini sejak Januari-September 2016 tercatat sebesar Rp 431 miliar atau naik sekitar 1% dari penjualan pada periode sama tahun lalu sebesar Rp 427 miliar. Naiknya nilai tukar rupiah dan minimnya pasokan bahan baku ikan dalam negeri membuat penjualan DSFI kurang bersinar.

"Dari dulu kami membeli bahan baku dari nelayan kecil, nah setelah kapal ikan besar dilarang berlayar, maka banyak UPI yang selama ini mendapatkan pasokan dari kapal besar beralih membeli pasokan ikannya dari nelayan," ujarnya kepada KONTAN, Kamis (27/10) lalu.

Karena terjadi perebutan bahan baku dari nelayan, maka harga ikan pun pasokan bahan baku pun meningkat. Akibatnya, margin keuntungan perusahaan terpangkas, sebab kenaikan pasokan bahan baku itu tidak bisa langsung diiringi dengan kenaikan harga jual perusahaan.

Dari total nilai penjualan Rp 431 miliar, sebesar Rp 412,6 miliar di antaranya merupakan ekspor. Ekspor tahun ini pun nyaris sama dengan nilai ekspor tahun lalu yakni sebesar Rp 412,9 miliar. "Hanya lebih rendah sekitar Rp 300 juta tahun ini dibandingkan tahun lalu," jelas Saut.

Melihat kondisi ini, Saut mengatakan pihaknya sepertinya sulit mencapai target penjualan tahun ini senilai Rp 660 miliar. Namun ia memperkirakan penjualan mereka masih bisa mencapai di atas penjualan tahun lalu sebesar Rp 557 miliar.


Survei KG Media

TERBARU

[X]
×