Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar otomotif nasional mulai menunjukkan pemulihan sepanjang 2026. Meski demikian, pelaku industri dan pengamat menilai penguatan penjualan mobil masih perlu dicermati, terutama dari sisi daya beli dan kemampuan konsumen mengakses pembiayaan.
Ketua Bidang Pengembangan Pasar Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto mengatakan, proyeksi penjualan mobil nasional tahun ini masih berada di kisaran 850.000 unit.
"Proyeksi tahun 2026 tetap 850.000 unit. Daya beli mulai ada perbaikan, tetapi hanya untuk mobil-mobil dengan harga terjangkau. Angka penjualan BEV terus meningkat," kata Jongkie kepada Kontan, Selasa (1/9/2026).
Peluang pencapaian target tersebut juga dinilai cukup terbuka. Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, target 850.000 unit masih realistis untuk dicapai, bahkan berpeluang terlampaui jika tren penjualan bertahan hingga akhir tahun.
Baca Juga: Pasar Mobil Bekas Masih Lesu Meski Penjualan Mobil Baru Naik
Berdasarkan data yang ia catat, penjualan wholesales Januari-Juli 2026 telah mencapai sekitar 517.000 unit. Dengan demikian, kebutuhan penjualan pada sisa tahun masih relatif terjangkau dibandingkan ritme penjualan yang sudah terbentuk.
Namun, Yannes menilai ukuran pemulihan pasar tidak cukup hanya dilihat dari capaian wholesales. Penyerapan kendaraan oleh konsumen menjadi indikator yang lebih penting.
"Yang paling penting bukan sekadar mencapai target wholesales, melainkan memastikan kendaraan tersebut benar-benar terserap konsumen," ujar Yannes kepada Kontan, Selasa (1/9/2026).
Menurut dia, perkembangan penjualan ritel, persetujuan kredit, stabilitas nilai tukar rupiah, serta konsistensi insentif akan menjadi penentu hingga akhir tahun. Hal ini mengingat sebagian besar konsumen mobil di Indonesia masih mengandalkan pembiayaan.
Jika penjualan wholesales dan ritel sama-sama tumbuh positif, kondisi tersebut akan menjadi sinyal bahwa pemulihan pasar otomotif semakin solid.
Yannes mencatat, wholesales Januari-Juli 2026 tumbuh sekitar 18,3%, sedangkan penjualan ritel naik sekitar 12,3%. Meski arah pasar membaik, skala pemulihan belum sepenuhnya kembali ke level sebelum tekanan pasar.
Baca Juga: Penjualan Mobil Tembus 517.742 Unit, Persaingan Merek Makin Sengit
Bahkan jika penjualan mencapai 850.000 unit sepanjang tahun ini, level tersebut masih belum sepenuhnya kembali ke capaian 2024. Artinya, pemulihan pasar saat ini lebih terlihat dari sisi tren, sementara pemulihan dari sisi skala masih berlangsung.
"Sebagian pertumbuhan juga terbantu basis tahun sebelumnya yang relatif rendah," jelasnya.
Faktor daya beli kelas menengah juga masih menjadi perhatian. Menurut Yannes, pembelian kendaraan sangat bergantung pada kemampuan masyarakat memperoleh pembiayaan. Namun, kompetisi yang semakin ketat dan masuknya berbagai model baru dengan harga lebih kompetitif memberikan pilihan yang lebih luas bagi konsumen.
Jika kondisi tersebut diikuti akses pembiayaan yang tetap terjangkau dan meningkatnya keyakinan konsumen terhadap pendapatan mereka, pemulihan pasar otomotif berpeluang menjadi lebih merata.
Elektrifikasi kendaraan
Selain mobil konvensional, kendaraan elektrifikasi mulai menjadi salah satu penopang pertumbuhan pasar otomotif nasional.
Yannes mencatat penjualan kendaraan elektrifikasi pada semester I 2026 mencapai sekitar 117.000 unit atau tumbuh sekitar 69,4%. Kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) juga terus mendapatkan momentum seiring bertambahnya model dengan harga yang lebih kompetitif, terutama dari merek asal China dan Vietnam.
Di sisi lain, kendaraan konvensional masih memiliki pasar yang kuat, terutama di luar wilayah perkotaan besar. Sementara itu, kendaraan hybrid dinilai masih memiliki posisi strategis sebagai teknologi transisi bagi konsumen yang belum siap sepenuhnya bergantung pada infrastruktur pengisian daya.
Baca Juga: Penjualan Mobil Naik 18,3% Hingga Juli 2026, BYD Salip Honda Masuk jajaran Lima Besar
Yannes memperkirakan kendaraan elektrifikasi masih akan menjadi salah satu penopang pertumbuhan pasar otomotif hingga akhir 2026. Namun, perkembangan tersebut bergantung pada harga kendaraan, pembangunan infrastruktur charging, perluasan layanan purnajual, serta terbentuknya kepercayaan konsumen terhadap nilai jual kembali kendaraan.
Meski optimistis, pengamat otomotif Bebin Djuana mengingatkan target penjualan di atas 850.000 unit masih perlu diuji dengan kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat.
Menurut dia, kenaikan penjualan perlu dilihat bersama dengan perkembangan pasar pada semester I serta kondisi tenaga kerja. Pasalnya, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) masih membayangi sebagian masyarakat sehingga kemampuan konsumsi belum tentu pulih secara merata.
Bebin juga menilai pelemahan nilai tukar rupiah ikut mempengaruhi perilaku konsumen. Pada akhir semester I, sebagian konsumen disebut mempercepat pembelian karena khawatir harga kendaraan meningkat akibat pelemahan rupiah terhadap mata uang asing.
Baca Juga: GIIAS 2026 Jadi Panggung Mobil Listrik, Model Baru Jadi Penopang Penjualan
Di sisi ekspor, peningkatan penjualan justru dapat dipengaruhi oleh harga produk Indonesia yang menjadi relatif lebih murah bagi pembeli luar negeri ketika rupiah melemah.
Sementara untuk kendaraan listrik, Bebin menilai perkembangan pasar masih menghadapi tantangan dari sisi konsistensi kebijakan pemerintah.
"Negara tidak menjaga konsistensi kebijakannya, terlalu sering dan banyak komentar yang mengganggu stabilitas industri," kata Bebin kepada Kontan, Selasa (1/9/2026).
Menurut dia, perubahan atau wacana mengenai insentif kendaraan listrik dapat mempengaruhi kepastian pelaku industri dan konsumen. Padahal, pengembangan kendaraan elektrifikasi membutuhkan kepastian kebijakan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Pameran dan Model Baru Belum Cukup Dongkrak Penjualan Mobil pada Semester II-2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














