Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah Sekolah Rakyat yang infrastrukturnya dibangun PT Brantas Abipraya (Persero) mulai digunakan pada tahun ajaran 2026/2027.
Memasuki tahun ajaran baru, Sekolah Rakyat di sejumlah daerah mulai menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Tiga di antaranya berada di Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Bekasi di Cikarang, serta Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Baca Juga: Industri Kosmetik Nasional Kian Semerbak, Pasar Capai US$ 10 Miliar
Dimulainya MPLS di tiga wilayah tersebut menandai beralihnya fungsi infrastruktur yang telah dibangun menjadi fasilitas pendidikan yang digunakan langsung oleh para siswa.
Di Nganjuk, sebanyak 200 siswa Sekolah Rakyat dari jenjang SD, SMP hingga SMA mulai menempati asrama dan mengikuti MPLS.
Selain pengenalan lingkungan sekolah, para siswa juga mulai dibiasakan dengan pola hidup disiplin melalui tujuh kebiasaan positif.
Kebiasaan tersebut mencakup bangun pagi, beribadah, berolahraga, sarapan, belajar, bermasyarakat, serta tidur lebih awal.
Sementara itu, ratusan peserta didik di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Bekasi, Cikarang Pusat, juga mulai beradaptasi dengan kehidupan sekolah berasrama.
Pembelajaran di sekolah tersebut tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Para siswa juga dibekali kemandirian dan kedisiplinan melalui aktivitas sehari-hari, seperti menata tempat tidur, mencuci, menyetrika, bangun pagi, berolahraga, hingga mempersiapkan diri sebelum mengikuti kegiatan belajar.
Baca Juga: Lemahnya Integrasi Industri dari Hulu hingga Hilir Bayangi Sektor Manufaktur
Adapun di Desa Tampusu, Kecamatan Remboken, Kabupaten Minahasa, MPLS Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 3 Provinsi Sulawesi Utara juga resmi dimulai pada Senin (31/8/2026).
Pembukaan MPLS tersebut dihadiri Wakil Gubernur Sulawesi Utara Victor Mailangkay, Wakil Bupati Minahasa Vanda Sarundajang, serta perwakilan Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Pemerintah daerah menilai kehadiran Sekolah Rakyat menjadi langkah strategis untuk memperluas akses pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.
Selain pendidikan akademik, sekolah tersebut juga diarahkan menjadi ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kemandirian siswa.
Sekretaris Perusahaan Brantas Abipraya, Dian Sovana mengatakan, dimulainya MPLS di berbagai daerah menjadi momentum penting bagi perusahaan.
Sebab, pembangunan Sekolah Rakyat tidak berhenti pada penyelesaian fisik bangunan, tetapi harus memberikan manfaat sosial bagi masyarakat.
Baca Juga: Penjualan Mobil 2026 Berpeluang Tembus 850.000 Unit
“Bagi Brantas Abipraya, keberhasilan pembangunan Sekolah Rakyat tidak hanya diukur dari selesainya bangunan, tetapi ketika fasilitas tersebut benar-benar hidup, digunakan, dan memberikan manfaat bagi anak-anak Indonesia,” ujar Dian dalam keterangan resminya, Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, dimulainya MPLS di sejumlah daerah menunjukkan bahwa infrastruktur yang dibangun perusahaan telah bertransformasi menjadi ruang bagi siswa untuk belajar, bertumbuh, dan mempersiapkan masa depan.
Dian menambahkan, konsep Sekolah Rakyat yang mengintegrasikan fasilitas pendidikan dengan sistem asrama memiliki nilai strategis karena proses pembentukan peserta didik berlangsung secara lebih menyeluruh.
Pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga diarahkan untuk membangun kemandirian, kedisiplinan, kepedulian sosial, serta karakter peserta didik.
“Kami percaya bahwa infrastruktur pendidikan yang berkualitas harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan mendukung pembentukan karakter,” katanya.
Baca Juga: Industri Manufaktur Masih Ekspansif, Tapi Mulai Injak Rem
Karena itu, Brantas Abipraya tidak hanya memastikan pembangunan memenuhi standar mutu dan ketepatan waktu, tetapi juga memastikan fasilitas dapat berfungsi secara optimal saat digunakan oleh siswa.
Sebelumnya, Brantas Abipraya melakukan percepatan pembangunan Sekolah Rakyat di sejumlah wilayah untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana menghadapi tahun ajaran 2026/2027.
Dalam pelaksanaan proyek tersebut, perusahaan mengedepankan pengawasan teknis, pengendalian mutu, manajemen proyek, serta penerapan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Di Kabupaten Bekasi, pembangunan Sekolah Rakyat Jawa Barat 2 di Desa Sukamahi, Kecamatan Cikarang Pusat, dikerjakan oleh Brantas Abipraya.
Proyek tersebut sebelumnya melalui tahap percepatan penyelesaian untuk memastikan kesiapan fasilitas sebelum dimulainya tahun ajaran baru.
Sementara di Minahasa, pembangunan Sekolah Rakyat di Kecamatan Remboken juga menjadi salah satu proyek yang dikerjakan Brantas Abipraya.
Proyek tersebut sebelumnya mendapat perhatian pemerintah pusat melalui peninjauan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Baca Juga: Efek Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Lebih Dirasakan Konsumen Menengah Atas
Dalam kesempatan tersebut, pemerintah mengapresiasi pekerjaan insan konstruksi dalam menghadirkan sarana pendidikan bagi generasi penerus.
Secara nasional, Sekolah Rakyat merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas akses pendidikan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Program ini menggunakan pendekatan pendidikan terintegrasi dan berasrama, sehingga peserta didik mendapatkan dukungan pembelajaran sekaligus pembinaan karakter dan kemandirian.
Bagi Brantas Abipraya, keterlibatan dalam pembangunan Sekolah Rakyat menjadi bagian dari kontribusi perusahaan dalam mendukung agenda pembangunan nasional, khususnya peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak.
“Kami berharap setiap Sekolah Rakyat yang kami bangun dapat menjadi tempat tumbuhnya generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter, mandiri, disiplin, dan memiliki daya saing,” pungkas Dian.
Dengan dimulainya MPLS di Nganjuk, Cikarang, dan Minahasa, pembangunan Sekolah Rakyat memasuki tahap baru. Infrastruktur yang sebelumnya menjadi proyek konstruksi kini mulai dimanfaatkan sebagai ruang pendidikan dan pembentukan generasi penerus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














