Reporter: Leni Wandira | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan pertumbuhan penjualan mobil sebesar 13% pada sembilan bulan pertama 2026. Kinerja penjualan mobil tersebut turut menopang bisnis otomotif Astra yang membukukan kenaikan laba bersih sebesar 8% menjadi Rp 9,8 triliun per September 2026.
Berdasarkan laporan kinerja perseroan, penjualan mobil Astra tumbuh di tengah peningkatan pasar otomotif nasional. Sepanjang Januari-September 2026, penjualan mobil nasional meningkat 21% secara tahunan menjadi 679.000 unit. Sementara itu, pangsa pasar Astra secara keseluruhan mencapai 49%, dengan Toyota dan Daihatsu tetap memimpin pasar otomotif Indonesia.
Presiden Direktur Astra International Rudy menyampaikan, kinerja bisnis otomotif menjadi salah satu penopang kinerja Grup Astra pada kuartal III-2026. Perbaikan kinerja pada kuartal tersebut turut didukung oleh peningkatan volume kontrak pertambangan dan dimulainya kembali produksi tambang emas Martabe.
“Dibandingkan kuartal-kuartal sebelumnya, kinerja pada kuartal ketiga membaik, terutama ditunjang oleh peningkatan volume kontrak pertambangan, dimulainya kembali produksi tambang emas Martabe, serta bisnis Otomotif yang tetap bertumbuh,” ujar Rudy dalam keterangannya, Rabu (28/10/2026).
Baca Juga: Bidik Pasar Muslim, Sharp Memprediksi Penjualan Rice Cooker Halal Berlipat
Astra juga memperkirakan faktor-faktor tersebut akan terus mendukung kinerja Grup pada kuartal IV-2026. Selain penjualan kendaraan, peningkatan laba bisnis otomotif Astra turut ditopang oleh divisi komponen.
Kontribusi laba bersih divisi komponen meningkat 15% menjadi Rp 1,4 triliun pada Januari-September 2026, dengan peningkatan kontribusi dari seluruh segmen.
Di segmen kendaraan roda dua, penjualan sepeda motor nasional meningkat 4% menjadi 5 juta unit selama sembilan bulan pertama 2026. Penjualan sepeda motor Honda, yang berada di bawah naungan Astra, tumbuh 3%, dengan pangsa pasar stabil di level 77%.
Secara konsolidasi, Astra membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 243,9 triliun pada sembilan bulan pertama 2026, relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba bersih tanpa memperhitungkan pos nonberulang (non-recurring items) tercatat Rp 24,6 triliun, turun 1% secara tahunan.
Baca Juga: Laba Paradise Indonesia (INPP) Berbalik Untung, Pendapatan Tembus Rp 1,3 Triliun
Adapun setelah memperhitungkan pos nonberulang sebesar Rp 3 triliun, terutama dari penurunan nilai aset dan penyesuaian nilai wajar investasi ekuitas, laba bersih Astra tercatat Rp 21,6 triliun atau turun 12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari segmen bisnis lainnya, laba bersih jasa keuangan Astra meningkat 6% menjadi Rp 7,2 triliun. Sementara itu, laba bersih bisnis solusi pertambangan dan alat berat turun 28% menjadi Rp 5,1 triliun, seiring penurunan penjualan emas dari tambang Martabe pada awal tahun dan dampak penurunan kuota produksi batubara nasional terhadap permintaan alat berat serta jasa pertambangan.
Rudy menyebut Astra tetap optimistis terhadap kekuatan bisnis intinya di tengah volatilitas pasar. Perseroan akan melanjutkan upaya peningkatan efisiensi operasional, menjaga posisi neraca, serta mengejar peluang pertumbuhan secara selektif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














