kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.788.000   -12.000   -0,43%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Ekonom: Platform OTT Berpotensi Raup hingga Rp 3 Triliun dari Siaran Piala Dunia 2026


Jumat, 22 Mei 2026 / 18:05 WIB
Ekonom: Platform OTT Berpotensi Raup hingga Rp 3 Triliun dari Siaran Piala Dunia 2026
ILUSTRASI. Folago (IRSX) Kantongi Izin OTT Piala Dunia 2026, Gandeng TVRI dan Surge (WIFI) (KONTAN/Yuliana Hema)


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gelaran Piala Dunia FIFA 2026 yang dinanti-nanti masyarakat diproyeksikan menjadi angin segar bagi pertumbuhan bisnis platform over-the-top (OTT).

Dalam ajang yang dimulai Juni ini, masyarakat dapat menyaksikan 104 turnamen melalui platform OTT baru Folaplay yang akan dirilis pada bulan yang sama. Platform ini milik PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX) yang ditunjuk sebagai mitra TVRI untuk tayangan digital.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda mengatakan, pendapatan dari biaya subscription dapat menjadi potensi terbesar bagi bisnis OTT. Hal ini juga mengingat banyaknya penggemar sepak bola di Indonesia.

Ia pun memperkirakan, platform OTT dapat meraup pemasukan hingga Rp 3,5 triliun dari momentum Piala Dunia tahun ini.

Baca Juga: Folago Global (IRSX) Siapkan OTT FolaPlay untuk Menonton Siaran Piala Dunia 2026

"Merujuk pada berbagai sumber, ada sekitar 165 juta penggemar sepak bola di Indonesia. Katakanlah ada 25% saja, dengan biaya subscribe khusus Piala Dunia mencapai Rp 85 ribu, maka terkumpul dana kurang lebih sebesar Rp 3,5 triliun," jelas Nailul kepada Kontan, Jumat (22/5/2026).

Pun, proyeksi tersebut belum termasuk pendapatan tambahan dari biaya iklan yang biasanya cukup signifikan. Menurut Nailul, potensi pertumbuhan dari OTT juga didukung oleh pergeseran preferensi menonton masyarakat yang makin mengandalkan kanal digital.

Kendati begitu, ia menyorot bahwa kondisi ekonomi pada 2022, tahun gelaran Piala Dunia sebelumnya, berbeda dengan tahun ini. Belum lagi, Timnas Indonesia yang tak lolos kualifikasi juga dinilai bisa menurunkan euforia dari penggemar sepak bola. 

Baca Juga: Piala Dunia 2026 Jadi Magnet, Penjualan TV Diprediksi Melejit Tajam

"Kondisi ekonomi yang tengah buruk, membuat animo masyarakat menonton Piala Dunia berpotensi berubah. Yang paling terasa bisa jadi dari kegiatan nonton bersama (nobar) menjadi menonton sendiri di rumah," jelas Nailul.

Ia menambahkan, dari sisi kolaborasi TV dan platform OTT, kerja sama strategis dengan tujuan untuk memperluas jangkauan layanan digital bukanlah yang pertama kali. Namun, Nailul bilang dampak kerja sama event seperti ini terhadap bisnis OTT umumnya temporer.

"Untuk berkembang secara berkelanjutan, platform OTT perlu mengembangkan layanan lainnya yang menarik konsumen untuk terus berlangganan," tandasnya.

Baca Juga: Folago (IRSX) Kantongi Izin OTT Piala Dunia 2026, Gandeng TVRI dan Surge (WIFI)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×