kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -36.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Penurunan HBA bulan Juli dinilai siklus wajar saat pandemi virus corona (Covid-19)


Minggu, 05 Juli 2020 / 20:04 WIB
ILUSTRASI. Batubara. REUTERS/Jim Urquhart/File Photo


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga Batubara Acuan (HBA) bulan Juli masih melanjutkan tren penurunan menjadi US$ 52,16 per ton. Angka itu turun tipis US$ 0,82 per ton dibanding HBA bulan sebelumnya. Meski begitu, HBA Juli masuk ke level terendah setelah tahun 2016.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menyatakan bahwa pelemahan harga itu merupakan konsekuensi dari masih lemahnya permintaan (demand) batubara global. Di saat yang bersamaan, pasokan (supply) tetap menanjak sehingga membuat pasar menjadi kelebihan pasokan (oversupply).

Baca Juga: DSSA fokus tuntaskan proyek PLTU dan perkuat bisnis tambang batubara

Dalam kondisi seperti ini, masih sulit untuk meninggalkan tren penurunan harga batubara. "Ini kondisinya masih oversupply. Demand masih lemah karena pandemi covid-19, sementara supply, produksi masih relatif kuat," kata Hendra kepada Kontan.co.id, Minggu (5/7).

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Indonesia Mining and Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo. Bahkan menurutnya, penurunan HBA Juli terbilang tipis dan masih berada di level yang wajar. Tingkat kestabilan pertumbuhan ekonomi dan industri di era new normal pandemi covid-19 ini memang memegang peranan kunci.

Di sisi lain, demand dari pasar utama ekspor batubara Indonesia, yakni China dan India belum tumbuh signifikan. Apalagi, keduanya masih lebih memilih untuk mengoptimalkan pemakaian batubara dalam negeri.

Tapi jika industri sudah tumbuh stabil dan permintaan listrik kembali menguat, Singgih yakin pasar dan harga batubara akan membaik. "Turun-naik seperti itu masih belum begitu tertekan, kecuali jika turunnya berapa persen, kalau seperti sekarang wajar dalam dinamika indeks. Industri belum tumbuh, pelan-pelan tambah membaik," ungkap Singgih.

Baca Juga: Bukit Asam (PTBA) berkomitmen memberantas penambang ilegal di wilayahnya

Sebelumnya, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengungkapkan penurunan HBA Juli diakibatkan oleh sentimen yang sama di bulan lalu yaitu minimnya serapan pasar global terhadap permintaan pasokan batubara Indonesia.

Agung bilang, faktor paling signifikan adalah stok batubara di India dan Tiongkok terbilang cukup tinggi. "Dua negara tadi sedang mengutamakan terlebih dahulu pasokan (batubara) dalam negeri," jelas Agung, Jumat (3/7).




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×