Sumber: Kompas.com | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) meningkatkan kewaspadaan setelah Selat Hormuz resmi ditutup menyusul eskalasi perang antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat (AS).
Penutupan jalur strategis tersebut dinilai berisiko mengganggu perdagangan global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu urat nadi distribusi energi dan logistik dunia.
Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi lintasan utama pengiriman minyak mentah serta berbagai komoditas internasional, termasuk kendaraan ekspor dari Indonesia ke kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Sarinah Targetkan Kunjungan Naik 15% Saat Ramadan dan Lebaran 2026
Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam mengatakan, perusahaan telah menyiapkan langkah mitigasi untuk mengantisipasi potensi gangguan distribusi.
“Selat Hormuz ditutup kita antisipasi tambah yard untuk penampungan produksi yang tertunda shipping-nya. Tapi itu juga terbatas,” ujar Bob kepada Kompas.com, Rabu (4/3/2026).
Artinya, jika jalur pelayaran terganggu dan proses pengapalan tertunda, kendaraan yang sudah diproduksi akan ditampung sementara di area penyimpanan tambahan. Namun kapasitas tersebut tidak tanpa batas.
Bob menambahkan, dampak lebih luas bisa dirasakan apabila konflik terus bereskalasi dan berlangsung dalam waktu lama.
“Yah kalau terus berkecamuk mungkin akan menganggu supply dan produksi. Tapi kita lihat eskalasi,” kata dia.
Baca Juga: Ferrari Masuk Pasar Mobil Bekas di Indonesia, Tertarik?
Diketahui, TMMIN selama ini mengekspor berbagai model ke kawasan Timur Tengah, seperti Irak, Lebanon, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, dan Kuwait.
Negara-negara tersebut secara geografis berada relatif dekat dengan pusat konflik, sehingga berpotensi terdampak baik dari sisi logistik maupun kondisi ekonomi domestiknya.
Selain hambatan pengiriman, risiko lain yang diantisipasi adalah kenaikan harga energi. Sebab, sebagian besar distribusi minyak dunia melewati Selat Hormuz.
Jika pasokan terganggu dan harga minyak melonjak, daya beli di negara tujuan ekspor dapat tertekan dan berimbas pada permintaan kendaraan.
Sepanjang 2025, TMMIN mencatat ekspor kendaraan completely built up (CBU) mendekati 300.000 unit. Untuk 2026, perusahaan memilih memasang target yang lebih konservatif, seiring ketidakpastian global yang masih tinggi.
Produk yang dikirim ke pasar ekspor mencakup model elektrifikasi seperti Yaris Cross dan Innova Zenix Hybrid, serta model bermesin konvensional seperti Avanza, Veloz, Fortuner, dan Rush.
Baca Juga: Menperin Ungkap Dampak Gejolak Timur Tengah pada Industri Manufaktur Nasional
Baca Juga: Dongkrak Investasi Eksplorasi, ESDM Tawarkan 10 Area Potensi Blok Migas Baru
TMMIN menilai, jika perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat meluas hingga memicu ketegangan yang lebih besar, dampaknya bisa menjalar ke rantai pasok global.
Oleh karena itu, perusahaan terus memantau perkembangan situasi guna menjaga kesinambungan produksi dan pengiriman unit ke pasar internasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












