kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.639.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.676   -107,00   -0,60%
  • IDX 6.668   72,11   1,09%
  • KOMPAS100 872   13,18   1,53%
  • LQ45 663   10,90   1,67%
  • ISSI 232   2,15   0,94%
  • IDX30 371   5,78   1,58%
  • IDXHIDIV20 459   8,65   1,92%
  • IDX80 100   1,57   1,60%
  • IDXV30 127   2,77   2,24%
  • IDXQ30 119   2,33   2,00%

Pertamina Beberkan Tantangan Pengembangan E20, Pasokan Bioetanol Masih Terbatas


Kamis, 03 September 2026 / 18:15 WIB
Pertamina Beberkan Tantangan Pengembangan E20, Pasokan Bioetanol Masih Terbatas
ILUSTRASI. PT Pertamina (Persero) terus mencermati kesiapan ekosistem sebelum melangkah ke implementasi pencampuran bioetanol 20% dengan bensin alias (E20). (KONTAN/Fransiskus Simbolon)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina (Persero) terus mencermati kesiapan ekosistem sebelum melangkah ke implementasi pencampuran bioetanol 20% dengan bensin alias (E20). 

Pertamina menilai keberhasilan program ini memerlukan kesiapan pasokan bioetanol hingga kesiapan infrastruktur penyaluran di tingkat hilir secara komprehensif.

SVP Strategy and Business Development Pertamina, Ary Kurniawan menyatakan, saat ini pihaknya telah menyalurkan produk Pertamax Green 95 (PG95) yang merupakan campuran Pertamax (RON 92) dengan etanol 5% di wilayah Jawa, khususnya Jakarta dan Surabaya. 

Kendati demikian, volume penyaluran program tersebut diakui masih terbatas di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Baca Juga: Indonesia Berpeluang Raup Nilai Ekonomi AI US$366 Miliar pada 2030

"Jadi kalau terkait dengan E20 ya, kalau untuk E20 memang saya sudah mencatat bahwa di Pertamina sendiri sebenarnya kita ada program PG95, yaitu Pertamax Green 95, itu kita sudah mulai di wilayah Jawa untuk di Jakarta dan di Surabaya. Kita sudah menyalurkan sekitar 27.000 KL untuk 184 SPBU, memang programnya belum masif," ujarnya dalam IndoEBTKE ConEx 2026 di JIExpo Kemayoran Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Ary menjelaskan, implementasi E20 membutuhkan penanganan holistik sebagaimana kesuksesan program biodiesel di dalam negeri. Salah satu aspek yang menjadi perhatian yakni kesiapan pasokan bahan baku bioetanol tingkat fuel grade yang hingga kini kapasitas nasionalnya masih belum mencukupi.

"Bagaimana kita bisa mensukseskan E20, kita harus melihat ekosistemnya secara komprehensif juga seperti biodiesel. Pertama terkait supply, kalau kita lihat program Kementerian ESDM untuk tahun 2026 dan 2027 adalah E5 untuk wilayah Jawa dan Bali, ini kebutuhannya untuk yang non-PSO ya, karena memang programnya itu rencananya di non-PSO, ada sekitar 3-4 juta KL bensin," tuturnya.

Sementara itu, kata dia, kebutuhan bioetanol untuk program E5 mencapai 150.000 hingga 200.000 kiloliter (KL), sedangkan pasokan domestik saat ini baru berkisar 60.000 sampai 80.000 KL.

Baca Juga: Wamen Stella Ungkap Potensi Besar Indonesia Jadi Pemain Utama Data Center Global

"Sehingga ini memang perlu digalakkan untuk program pengembangan bioetanol di dalam negeri. Karena kita masih punya molase, kita ekspor mungkin sekitar 600.000 ton-800.000 ton yang bisa kita manfaatkan untuk menjadi bioetanol bisa sampai 150.000-200.000 KL juga. Lewat Pertamina Power Indonesia ini lagi mengembangkan kilang bioetanol di Glenmore dengan kapasitas 30.000 KL. Jadi dari sisi supply itu penting," paparnya.

Dari sisi infrastruktur, Pertamina telah menyiapkan fasilitas penerimaan dan blending untuk skala E5 di wilayah Surabaya dan Jakarta. Penyesuaian infrastruktur di terminal bahan bakar minyak (TBBM) terus disiapkan oleh PT Pertamina Patra Niaga untuk jangkauan yang lebih luas hingga tingkat nasional.

"Jadi fasilitasnya itu sudah siap. Tentu saja kalau misalnya ini mau digalakkan untuk seluruh wilayah Jawa dan Bali dan juga nanti ke depannya nasional, ini kita perlu melakukan penyesuaian di terminal-terminal. Yang mana itu memang sudah disiapkan oleh teman-teman di Pertamina Patra Niaga," terangnya.

Menurut Ary, penyesuaian teknis di terminal penyaluran memerlukan estimasi waktu sekitar satu hingga dua tahun. Selain terminal BBM, tantangan utama yang harus diantisipasi terletak pada kesiapan teknis di level penampungan SPBU karena sifat kimiawi bioetanol yang jauh lebih sensitif.

Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) Targetkan Pembangunan RSUD Weda Rampung Akhir 2026

"Jadi untuk terminal-terminalnya ini sudah disiapkan untuk nanti bisa menerima E20. Butuh waktu 1-2 tahun untuk proses penyiapannya. Yang jadi isu itu adalah di SPBU, ini yang perlu juga dukungan dari pemerintah dan juga nanti dari Hiswana migas bagaimana kita menyiapkan SPBU untuk bisa menerima produk bioetanol," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×