kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Pertamina impor minyak 950.000 barel dari Nigeria


Kamis, 29 Agustus 2013 / 13:30 WIB
ILUSTRASI. PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) secara resmi meletakan lunas untuk 3 kapal pandu baru.


Reporter: Asnil Bambani Amri | Editor: Asnil Amri

SINGAPURA. PT Pertamina dikabarkan akan mengimpor 950.000 barel minyak mentah dari Nigeria Bonny Light. Sumber Bloomberg di Pertamina menyebutkan, minyak tersebut akan dikirimkan pada bulan Oktober mendatang.

Minyak mentah tersebut nantinya dikirim ke kilang minyak Cilacap yang berlokasi di Jawa Tengah. Pembelian minyak oleh Pertamina dilakukan saat harga minyak naik akibat krisis yang terjadi di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara.

Konflik penggulingan presiden di Mesir dikhawatirkan berdampak pada pengiriman minyak di Terusan Suez, yang membuat harga minyak terkerek naik. Sementara itu, konflik Suriah memanas karena negara itu dituduh menggunakan senjata kimia yang membuat Amerika Serikat (AS) berang dan berencana menyerang Suriah.

Jika AS menyerang, pasar khawatir konflik meluas ke wilayah Timur Tengah lainnya, terutama ke negara-negara produsen minyak. Sementara itu, di Libya dilanda aksi protes pekerja yang membuat produksi minyak di negara itu turun drastis.

Sementara itu, Reuters melaporkan, harga minyak Brent untuk pengiriman Oktober sudah berada di posisi US$ 115,73 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah AS bertengger di posisi US$ 109,37 per barel. "Harga minyak bergerak terus ke atas," kata Tony Nunan kepada Reuters.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×