kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.545.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.109   16,00   0,09%
  • IDX 5.050   20,17   0,40%
  • KOMPAS100 649   1,43   0,22%
  • LQ45 518   4,63   0,90%
  • ISSI 164   -2,40   -1,44%
  • IDX30 292   2,74   0,95%
  • IDXHIDIV20 394   5,37   1,38%
  • IDX80 75   0,27   0,36%
  • IDXV30 108   0,37   0,34%
  • IDXQ30 99   1,18   1,21%

Perusahaan asing ramai-ramai jajaki pengembangan baterai mobil listrik di Indonesia


Rabu, 18 November 2020 / 19:02 WIB
ILUSTRASI. Fasilitas pengisi daya baterai mobil listrik usai diresmikan di Plaza Senayan, Jakarta (26/11).. KONTAN/Muradi


Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Tendi Mahadi

Luhut menjelaskan bahwa Indonesia punya peluang untuk memproses nikel ke baterai lithium karena memiliki cadangan yang cukup untuk menjadi pemain utama dalam industri baterai kendaraan listrik di dunia.  Adapun Luhut berharap produksi baterai Lithium ini bisa dilihat pada akhir 2023 atau pada 2024. 

"Kemungkinan sampai 85% dari material lithium baterai itu bisa kita dapatkan di Indonesia," jelasnya. 

Perlu fasilitas daur ulang baterai Lithium 
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi,dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Taufiek Bawazier mengatakan usia baterai listrik bisa mencapai 10-15 tahun. Artinya, sepuluh tahun ke depan perlu dipersiapkan fasilitas recycling (daur ulang) untuk memperoleh nilai tambah baru baik berupa material di dalamnya seperti lithium, nikel, cobalt, mangan dan copper. 

Baca Juga: Cegah penularan Covid-19, Auto2000 layani pembayaran layanan after sales melalui QRIS

"Penguasaan teknologi recycling perlu dipikirkan dari sekarang seperti hydrometalurgi dan juga penggunaan teknologi AI dan robotik termasuk skill baru dalam pemrosesan baterai listrik," jelasnya dalam keterangan resmi (9/11). 

Selain itu, menurut Taufiek, proses daur ulang dapat meningkatkan pemanfaatan material, baik lithium dan mangan yang berupa carbonat dan nikel serta cobalt berupa sulfat yang dapat diperoleh dengan maksimal sehingga proses circular ekonominya mencapai titik optimal.

“Namun demikian, yang terpenting adalah mobil listrik dan baterai listrik dapat diproduksi di dalam negeri. Investasi ke arah sana tentunya dipersiapkan untuk membuka tenaga kerja dengan skill yang baru dan meningkatkan hilirisasi sumber daya alam nasional berupa nikel, cobalt, maupun mangan,” tegasnya.

Selanjutnya: Luhut sebut sejumlah kontrak diteken dalam mengembangkan baterai untuk mobil listrik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×