kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.575   22,00   0,13%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Petani: Industri ragu serap garam lokal


Senin, 14 Agustus 2017 / 19:47 WIB


Reporter: Abdul Basith | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – Pelaku industri tampak ragu untuk menyerap garam rakyat. Menyusul masuknya garam impor dari Australia yang harganya relatif lebih murah dari garam lokal.

"Ada semacam keraguan dari industri cenderung menunggu garam impor," ujar Muhamad Sarli, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persaudaraan Petambak Garam Indonesia (PPGI), Jakarta, Senin (14/8).

Harga bahan baku garam konsumsi yang berasal dari petani rakyat pun saat ini sudah turun. Sarli bilang, harga bahan baku garam turun mencapai Rp 2.000 per kilogram (kg) setelah sebelumnya mencapai Rp 3.500 per kg hingga Rp 4.000 per kg.

Mengenai dampak impor bagi petani garam, Sarli menjelaskan dapat mengganggu penyerapan garam lokal. Saat ini petani garam sudah memasuki masa panen. "Saat ini tiap harinya sudah banyak mobil mengangkut hasil panen," terang Sarli.

Sebelumnya produksi garam terkendala akibat cuaca. Hal tersebut membuat harga garam melonjak tinggi dan langka di pasar. Akibat hal itu pemerintah melakukan impor sebesar 75.000 ton bahan baku garam konsumsi dari Australia. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×