kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Petani: Industri ragu serap garam lokal


Senin, 14 Agustus 2017 / 19:47 WIB


Reporter: Abdul Basith | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – Pelaku industri tampak ragu untuk menyerap garam rakyat. Menyusul masuknya garam impor dari Australia yang harganya relatif lebih murah dari garam lokal.

"Ada semacam keraguan dari industri cenderung menunggu garam impor," ujar Muhamad Sarli, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persaudaraan Petambak Garam Indonesia (PPGI), Jakarta, Senin (14/8).

Harga bahan baku garam konsumsi yang berasal dari petani rakyat pun saat ini sudah turun. Sarli bilang, harga bahan baku garam turun mencapai Rp 2.000 per kilogram (kg) setelah sebelumnya mencapai Rp 3.500 per kg hingga Rp 4.000 per kg.

Mengenai dampak impor bagi petani garam, Sarli menjelaskan dapat mengganggu penyerapan garam lokal. Saat ini petani garam sudah memasuki masa panen. "Saat ini tiap harinya sudah banyak mobil mengangkut hasil panen," terang Sarli.

Sebelumnya produksi garam terkendala akibat cuaca. Hal tersebut membuat harga garam melonjak tinggi dan langka di pasar. Akibat hal itu pemerintah melakukan impor sebesar 75.000 ton bahan baku garam konsumsi dari Australia. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×