Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGAS) membidik pemanfaatan sumber daya gas non-konvensional melalui pengembangan Coalbed Methane (CBM) di Tanjung Enim, Sumatra Selatan, dengan potensi nilai mencapai US$ 15,4 miliar.
Direktur Utama PGN Arief K. Risdianto menjelaskan bahwa upaya tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi diversifikasi pasokan gas domestik demi memperkuat ketahanan energi nasional.
Nantinya, sumber gas berbasis batu bara tersebut dapat menjadi tumpuan baru untuk memenuhi kebutuhan industri dan pembangkit listrik.
Baca Juga: Femmy Fyber Bisa Atasi Gangguan Pencernaan dan Sulit Kontrol Berat Badan
“Pengembangan CBM di Tanjung Enim berpotensi membuka ruang monetisasi sumber daya gas non-konvensional domestik yang selama ini belum optimal. Inisiatif ini juga dapat menjadi salah satu opsi diversifikasi pasokan gas domestik bagi PGN,” ujar Arief dalam keterangan resmi, Senin (6/7/2026).
Sementara itu, berdasarkan data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas), potensi CBM di blok tersebut diperkirakan menembus 9,7 triliun kaki kubik (trillion cubic feet/TCF) Original Gas in Place (OGIP).
Sejalan dengan hal itu, manajemen PGAS menegaskan kesiapan teknis maupun komersial melalui penyusunan skema pemanfaatan gas bumi yang terintegrasi.
Perusahaan memproyeksikan tahapan penyaluran gas non-konvensional ini akan tumbuh secara bertahap, mulai dari 1 million standard cubic feet per day (MMSCFD) hingga menyentuh puncaknya di level 25 MMSCFD.
Kendati demikian, percepatan komersialisasi proyek strategis ini masih terganjal sejumlah restu administratif lintas sektor, termasuk penyesuaian Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) di daerah.
Terkait hal itu, Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman menegaskan bahwa akselerasi proyek CBM di Muara Enim menjadi perhatian serius pemerintah guna menekan ketergantungan pada impor energi.
Dudung menyebut KSP berkomitmen mendorong penyelesaian hambatan birokrasi agar gas metana batu bara ini bisa segera memasuki fase komersial.
“Meskipun masih terdapat sejumlah aspek administrasi yang perlu diselesaikan, termasuk penyesuaian Rencana Detail Tata Ruang [RDTR], seluruh pihak telah menyepakati pentingnya percepatan penyelesaian sesuai ketentuan yang berlaku,” pungkasnya.
Baca Juga: Rittal Perkuat Kapabilitas Engineering di Indonesia, Bidik Peluang dari Data Center
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














