Penulis: Chelsea Anastasia | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JEMBRANA. Pelaku usaha cokelat bean-to-bar Indonesia, Pipiltin Cocoa, terus memperkuat pasokan biji kakao fermentasi lokal untuk memenuhi kebutuhan produksi cokelatnya.
CEO & Co-Founder Pipiltin Cocoa, Tissa Aunilla, mengatakan Pipiltin konsisten menggunakan biji kakao fermentasi dari berbagai daerah di Indonesia untuk menghasilkan cokelat dengan karakter rasa yang berbeda.
Salah satu pemasok utama Pipiltin adalah Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya (KSS) di Kabupaten Jembrana, Bali.
Baca Juga: Bukan Cuma Minyak, Pertamina Hulu Rokan Kini Pasok Gas untuk CNG hingga 2 MMscfd
Saat ini, Pipiltin memperoleh pasokan kakao dari sejumlah wilayah (origin), mulai dari Bali, Kalimantan Timur, Aceh, Jawa Timur, Flores, hingga Papua Barat. Seluruhnya berasal dari petani yang menerapkan praktik pertanian organik dan berkelanjutan.
Menurut Tissa, Jembrana menjadi salah satu pemasok terbesar Pipiltin dengan karakter rasa khas, yakni memiliki sentuhan atau hint rasa madu pada cokelat yang dihasilkan.
"Di Pipiltin, kami memang khusus menggunakan biji terfermentasi. Bukan untuk menjadi eksklusif, tetapi kami ingin mengangkat keunikan rasa cokelat dari masing-masing origin. Karena tanpa fermentasi tidak ada keunikan rasa," ujar Tissa kepada Kontan, dalam agenda media visit proyek Accelerating Consumer Transformation (ACT!) di Jembrana, Bali, Kamis (30/7/2026).
Meski mengusung konsep keberlanjutan, Tissa melihat isu sustainability belum menjadi faktor pendorong bagi konsumen perkotaan dalam memutuskan pembelian produk cokelat.
Sebagian besar konsumen masih menjadikan rasa dan pengalaman menikmati produk sebagai pertimbangan, daripada proses di balik produksi kakao yang terfermentasi.
"Isu tentang sustainability tidak bisa dipaksakan karena belum tentu relevan bagi orang di kota. Orang cenderung ingin makan cokelat yang enak," katanya.
Karena itu, Pipiltin memilih pendekatan melalui inovasi produk agar konsumen lebih dekat dengan cokelat lokal berkualitas.
Selain produk utama berupa cokelat bar, Pipiltin mengembangkan beberapa variasi produk seperti soft serve ice cream, crepes, hingga cookies dari cokelat.
Baca Juga: Harga Cocoa Butter Mahal, Industri Makanan Kini Andalkan Turunan Sawit
Tissa mengatakan, salah satu produk yang sempat menarik perhatian konsumen justru berasal dari lini es krim.
"Produk Pipiltin yang sempat viral itu yang soft serve ice cream. Namun tidak apa-apa, karena es krimnya tetap menggunakan cokelat. Dengan produk yang relevan, konsumsi cokelat juga meningkat," jelasnya.
Menurutnya, peningkatan permintaan tersebut pada akhirnya turut memberikan dampak positif bagi petani dan koperasi di sisi hulu.
"Harapannya, end consumer tahu siapa petaninya, dan petani juga tahu siapa konsumennya. Kalau keterkaitan itu sudah ada, kesadaran tentang sustainable akan berjalan dengan sendirinya," ujarnya.
Dari sisi bisnis, Pipiltin akan terus mengembangkan inovasi produk, namun tetap mengutamakan efisiensi operasional.
Tissa menilai inovasi tidak selalu harus berupa produk baru yang mengikuti tren, melainkan juga dapat dilakukan melalui pengelolaan produksi yang lebih efektif.
"Kadang inovasi dianggap harus membuat produk baru yang membuat orang FOMO. Bagi kami, inovasi tidak selalu seperti itu. Inovasi juga bisa dilakukan dengan memastikan pengelolaan tetap efisien," katanya.
Bersama koperasi mitra, Pipiltin juga berupaya meningkatkan kapasitas fermentasi agar mampu menghasilkan volume lebih besar dengan proses yang sama. Dengan begitu, biaya produksi dapat tetap terkendali tanpa mengurangi kualitas produk.
Ke depan, Pipiltin akan memperkuat pengembangan produk dessert berbasis cokelat dengan tetap membawa cerita tentang kakao fermentasi dan petani berkelanjutan di baliknya.
"Biarkan apa yang terjadi di balik layar, seperti petani yang memiliki kebun berkelanjutan, menjadi second story sekarang. Namun lama-lama konsumen akan peduli," ujar Tissa.
Selain pasar domestik, Pipiltin juga telah menjangkau pasar ekspor seperti Jepang, Singapura, dan Malaysia. Perusahaan juga pernah menjajaki pasar Rusia.
Baca Juga: El Nino Berpotensi Pangkas Produksi Kakao Hingga 5%, Indonesia Masih Bergantung Impor
Namun, Tissa menyebut ekspor cokelat memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait volume produksi, fluktuasi harga, dan biaya pengiriman.
"Kami harus memastikan volume ekspor cukup sehingga saat pengiriman, biaya shipping tetap efisien. Itu salah satu tantangannya," katanya.
Saat ini, Jepang menjadi salah satu pasar ekspor terbesar Pipiltin dan telah berjalan selama sekitar tujuh tahun.
Menurut Tissa, tingginya konsumsi cokelat di Jepang tidak terlepas dari kuatnya kultur masyarakat setempat, termasuk tradisi pemberian cokelat saat momen tertentu seperti Valentine's Day dan White Day yang masih melekat.
Adapun di pasar domestik, Pipiltin melihat masih ada ruang besar untuk meningkatkan konsumsi cokelat lokal.
Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah mengedukasi konsumen bahwa cokelat bukan hanya produk konsumsi biasa, tetapi juga memiliki nilai fungsional.
Tissa mengatakan, kakao memiliki sejumlah karakteristik yang membuat cokelat memberikan sensasi menenangkan ketika dikonsumsi.
Misalnya, sensasi menenangkan saat mengonsumsi cokelat berkaitan dengan karakteristik alami lemak kakao (cocoa butter).
Di mana, lemak kakao memiliki titik leleh yang relatif dekat dengan suhu tubuh manusia, sehingga cokelat dapat meleleh perlahan ketika dikonsumsi dan memberikan sensasi khas di mulut.
Keunikan dari mengonsumsi cokelatlah yang ingin terus dikembangkan Pipiltin, terutama di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk pangan bernilai tambah.
“Saat ini kami sedang menggali lagi apa yang bisa dikembangkan dari kakao. Apalagi masyarakat sekarang semakin sadar terhadap kesehatan. Itu menjadi celah atau gap yang ingin kami isi," imbuh Tissa.
Baca Juga: Suzuki Bawa Empat Mobil Hybrid di GIIAS 2026, Lebih Cocok untuk Konsumen Indonesia
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
