Reporter: Gentur Putro Jati |
JAKARTA. Kamis (5/2), PT PLN (Persero) akan menandatangani memorandum of understanding (MoU) pasokan gas PLTGU Muara Karang sebanyak 30 mmscfd dengan PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN).
Direktur Jawa Madura Bali PLN Murtaqi Syamsudin menyebut PGN, Pertamina dan PT Krakatau Steel (KS) telah bersepakat melakukan swap sehingga PLN mendapat kepastian pasokan gas dari kontrak yang sudah ada. Pasokan sebesar 30 mmscfd akan mulai dipasok pada April 2009 untuk PLTGU Muara Karang.
Murtaqi menjelaskan, PLTGU tersebut membutuhkan pasokan gas sebanyak 130 mmscfd. Sebanyak 100 mmscfd sudah diperoleh dengan menandatangani kontrak dengan BP West Java. Sementara sisanya sebanyak 30 mmscfd akan diperoleh dari swap antara PGN, Pertamina dan KS.
"Jadi pasokan dari BP yang sekarang dipasok ke PGN akan dialihkan ke PLN. Kekurangan PGN akan dipasok Pertamina dari jatah milik KS. Sementara jatah KS akan digantikan PGN dari pipa SSWJ I. April harus terpenuhi," ujar Murtaqi, Senin (2/2).
Ditambahkan Murtaqi, sebenarnya PLTGU Muara Karang hanya membutuhkan 120 mmscfd. Namun, PLN menginginkan agar ada kepastian pasokan sehingga meminta sebanyak 130 mmscfd.
"Kita belum sampai keputusan harganya, dan jangka waktunya sih kita berharap sampai Muara Karang mendapat kepastian kontrak jangka panjang. Kemungkinan dari swap ini selama 25 bulan," kata Murtaqi.
Saat ini PLTGU Muara Karang berkapasitas 1.050 MW, kemudian dengan penambahan daya dari repowering tersebut akan menambah 500 MW sehingga dibutuhkan pasokan gas tambahan 30 mmscfd.
Ditambahkan Kepala Satuan Energi Primer PLN Nasri Sebayang bahwa kebutuhan gas pembangkit di seluruh Indonesia sebesar 1.600 mmscfd, 800 mmscfd untuk sistem Jawa Madura Bali.
"Untuk seluruh Indonesia yang sudah secured 700 mmscfd, jadi masih kurang 800 mmscfd," ujar Nasri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News