kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.900   47,00   0,26%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Potensi Biomassa Indonesia Sangat Besar, Namun Belum Menjadi Prioritas


Minggu, 31 Mei 2026 / 15:52 WIB
Potensi Biomassa Indonesia Sangat Besar, Namun Belum Menjadi Prioritas
ILUSTRASI. Indonesia punya potensi biomassa melimpah, tapi belum jadi prioritas. Peluang ekspor terbuka lebar jika ada strategi pemerintah yang tepat. (KONTAN/Daniel Prabowo)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Potensi biomassa di Indonesia dinilai sangat besar untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Sebagai negara agraris dengan ketersediaan limbah pertanian, perkebunan, dan kehutanan yang melimpah, Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi pemain penting dalam industri biomassa global.

Meski demikian, pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi hijau masih belum menjadi prioritas utama dalam kebijakan energi nasional maupun strategi investasi sektor energi di dalam negeri.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menilai bahwa dari sisi ketersediaan bahan baku, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis dan kompetitif dibandingkan banyak negara lain.

"Kalau biomassa potensinya cukup besar karena kita negara agraris kemudian ada limbah biomassa yang besar di sana kemudian kita juga ada perkebunan, kehutanan yang potensinya cukup besar," ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (29/5/2026).

Baca Juga: Harga Sawit Sempat Tertekan, PTPN IV PalmCo Jaga Serapan TBS Petani

Menurut Komaidi, keberlimpahan sumber daya tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang paling prospektif untuk mengembangkan industri biomassa dalam skala besar, baik untuk kebutuhan energi domestik maupun pasar ekspor.

"Jadi kalau dari sisi ketersediaan bahan baku kita salah satu yang disebut sebagai cukup potensial di dalam pengembangan biomassa," lanjutnya.

Peluang Ekspor Biomassa Masih Terbuka Lebar

Selain berpotensi mendukung transisi energi di dalam negeri, biomassa juga memiliki prospek perdagangan yang menjanjikan di pasar internasional. Permintaan terhadap energi rendah emisi terus meningkat seiring upaya berbagai negara mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Komaidi menjelaskan bahwa peluang ekspor produk biomassa, termasuk wood pellet dan berbagai produk turunan lainnya, masih sangat terbuka. Namun, pasar global menuntut komitmen jangka panjang dari para pemasok, terutama terkait kontinuitas pasokan.

"Ekspor itu peluangnya cukup terbuka tetapi pasar ekspor itu biasanya menghendaki keseriusan kemudian kontinuitas jadi gak cuma sekali dua kali, apalagi ini masalah energi jadi keberlanjutan menjadi kunci," tuturnya.

Karena itu, keberhasilan Indonesia dalam menembus pasar ekspor biomassa tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan baku, tetapi juga kemampuan industri nasional dalam menjaga kualitas dan keberlanjutan pasokan sesuai kontrak yang telah disepakati.

Banyaknya Pilihan Energi Membuat Biomassa Kurang Menarik

Di sisi lain, pengembangan biomassa menghadapi tantangan berupa melimpahnya sumber energi lain yang tersedia di Indonesia. Kondisi ini membuat biomassa belum menjadi pilihan utama dalam bauran energi nasional.

Komaidi menilai Indonesia memiliki keunggulan berupa keragaman sumber energi yang sangat besar, mulai dari minyak dan gas bumi (migas), batubara, hingga berbagai jenis energi baru terbarukan (EBT).

Baca Juga: Kehati-hatian Jadi Kunci Sukses Pemulihan Sistem Listrik Sumatra

"Masalahnya di Indonesia relatif belum menjadi pilihan utama karena kita dianugarahi energi cukup beraneka ragam, kita fosil punya, batubara punya, migasnya punya, EBT hampir semua jenis ada termasuk yang bisa menjadi penopang produksi listrik yaitu panas bumi kita juga punya yang terbesar kedua di dunia," terangnya.

Keberagaman sumber energi tersebut membuat pemerintah cenderung memaksimalkan pemanfaatan infrastruktur energi yang telah tersedia dan dianggap lebih ekonomis dalam jangka pendek. Akibatnya, pengembangan industri biomassa, termasuk pembangunan fasilitas produksi wood pellet dan pengolahan biomassa lainnya, masih berlangsung relatif lambat.

Kepastian Roadmap Dinilai Kunci Masuknya Investasi

Meski investasi sektor biomassa belum berkembang secara optimal, Komaidi meyakini minat investor terhadap sektor ini sebenarnya cukup besar. Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini adalah kepastian arah kebijakan dan roadmap pengembangan biomassa yang jelas dari pemerintah.

Dengan adanya regulasi dan peta jalan yang terukur, investasi diyakini akan mengalir, baik dari investor domestik maupun internasional yang saat ini mencari peluang pada sektor energi hijau dan berkelanjutan.

"Sebetulnya investasi ketika pemerintah punya roadmap yang jelas potensinya ada investasinya pasti dengan sendirinya akan masuk karena sebetulnya pemilik dananya banyak bukan hanya dari lokal tapi dari luar," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×