kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.415.000   -13.000   -0,54%
  • USD/IDR 16.600   -6,00   -0,04%
  • IDX 8.089   173,32   2,19%
  • KOMPAS100 1.119   28,59   2,62%
  • LQ45 796   23,97   3,10%
  • ISSI 285   3,86   1,37%
  • IDX30 415   14,34   3,58%
  • IDXHIDIV20 470   17,22   3,80%
  • IDX80 124   2,97   2,46%
  • IDXV30 133   4,48   3,48%
  • IDXQ30 131   4,31   3,39%

Prabowo - Gibran Setahun, Kemenperin Ungkap Kinerja dan Target Industri Manufaktur


Senin, 20 Oktober 2025 / 17:39 WIB
Prabowo - Gibran Setahun, Kemenperin Ungkap Kinerja dan Target Industri Manufaktur
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita. Kemenperin membeberkan sejumlah tantangan dan capaian industri pengolahan non-migas alias sektor manufaktur pada tahun pertama Prabowo-Gibran.


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli

Selain faktor dinamika ekonomi dan geo-politik global, Agus mengamini industri nasional masih berhadapan pada sejumlah tantangan di dalam negeri. Agus menyoroti dua tantangan utama.

Pertama, persaingan dengan produk impor, baik legal maupun ilegal.

Kedua, persoalan pasokan dan harga gas untuk industri yang diperlukan sebagai energi maupun bahan baku.

Baca Juga: Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Ini Kata DPR

Hanya saja, Agus menegaskan bahwa untuk menghadapi kedua tantangan tersebut Kemenperin tidak bisa berjalan sendiri, karena memerlukan dukungan regulasi dari Kementerian dan Lembaga terkait lainnya.

Secara umum, Agus membeberkan bahwa strategi untuk menjaga pertumbuhan industri akan dilakukan dengan dua pendekatan.

Pertama, pendekatan defensif, yang berkaitan dengan regulasi perlindungan seperti kebijakan Bea Masuk Tindakan Anti Dumping (BMAD) dan Non-Tariff Measures (NTMs).

Soal kebijakan non-tarif sebagai instrumen perlindungan industri dalam negeri, Agus menyoroti bahwa jumlah NTMs Indonesia baru mencapai 207.

Jauh di bawah sejumlah negara seperti Thailand (661 NTMs), India (740 NTMs), China (1.569), dan AS yang memiliki sebanyak 4.597 NTMs.

Kedua, pendekatan ofensif, yang umumnya berkaitan dengan kebijakan fiskal dan pemberian insentif.

"Kedua pendekatan tersebut penting, karena saling melengkapi. Kami akan terus mengusulkan insentif dan stimulus apa saja yang diperlukan bagi industri dalam negeri agar pertumbuhannya bisa lebih cepat," tegas Agus.

Baca Juga: Setahun Prabowo-Gibran, Pasar Saham Tetap Ciamik Meski Diguncang Badai Geopolitik

Agus menambahkan, sebagai bagian dari upaya memperkuat struktur industri nasional, Kemenperin pun telah melakukan reformasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) melalui Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 35 Tahun 2025. Beleid yang terbit pada 11 September 2025 ini merevisi Permenperin Nomor 16 Tahun 2011.

Reformasi TKDN ini menitikberatkan pada empat aspek, yakni insentif, penyederhanaan, kemudahan serta kecepatan proses sertifikasi.

"Reformasi TKDN yang baru tidak hanya berfokus pada peningkatan nilai kandungan dalam negeri, tetapi juga menjadikannya instrumen strategis pembangunan industri yang inklusif dan berkelanjutan," terang Agus.

Dengan berbagai strategi tersebut, Kemenperin memproyeksikan kinerja sektor manufaktur pada tahun 2025 bisa tumbuh sebesar 5,93%.

"Kami  akan upayakan pertumbuhan sektor manufaktur bisa di atas pertumbuhan ekonomi nasional," tandas Agus.

Selanjutnya: UMKM Binaan Astra Catatkan Transaksi Rp 70,79 miliar di Trade Expo Indonesia 2025

Menarik Dibaca: Tayang di Bioskop 30 Oktober 2025, Begini Sinopsis Film Pengin Hijrah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004 Pre-IPO : Explained

[X]
×