kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.818.000   -42.000   -1,47%
  • USD/IDR 17.130   16,00   0,09%
  • IDX 7.500   41,69   0,56%
  • KOMPAS100 1.037   8,08   0,79%
  • LQ45 746   -0,12   -0,02%
  • ISSI 272   3,24   1,21%
  • IDX30 399   -1,25   -0,31%
  • IDXHIDIV20 486   -4,46   -0,91%
  • IDX80 116   0,59   0,51%
  • IDXV30 135   0,10   0,08%
  • IDXQ30 128   -1,20   -0,93%

Prabowo Targetkan Avtur dari Sawit, GAPKI Ungkap Spesifikasi Ideal


Senin, 13 April 2026 / 17:48 WIB
Prabowo Targetkan Avtur dari Sawit, GAPKI Ungkap Spesifikasi Ideal
ILUSTRASI. Riset sawit (Bpdp/Bpdp )


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Presiden Prabowo Subianto menyebut Avtur (Aviation Turbine Fuel) atau jenis bahan bakar penerbangan yang dirancang khusus untuk pesawat bermesin turbin gas (jet/propeller) dapat berasal dari minyak kelapa sawit.

Hal ini disampaikan Prabowo dalam Peresmian Pabrik Perakitan Kendaraan Komersial Berbasis Listrik di Magelang, Kamis (9/4/2026).

Menurutnya, di tengah ketidakpastian global dan krisis energi, Indonesia tetap harus waspada tetapi optimistis karena memiliki sumber daya yang melimpah salah satunya sawit.

“Kita gunakan hanya untuk yang strategis. Tetapi sekarang Avtur pun bisa dari kelapa sawit, dan kita punya banyak kelapa sawit,” kata Prabowo dalam sambutannya.

Baca Juga: Tekanan Avtur Belum Reda, Tiket Pesawat Terancam Terus Naik

Tak hanya itu, Prabowo juga menekankan bahwa saat ini pemerintah sedang memproduksi avtur dari minyak jelantah yang dapat diolah kembali menjadi bahan bakar serta mengembangkan pusat-pusat pengolahan (refinery) untuk mendukung pengembangan energi alternatif itu.

“Kita akan investasi besar-besaran di bidang itu,” tambah Prabowo.

Terkait target produksi Avtur dari sawit ini, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyebut bahwa perlu ditentukan spesifikasi minyak sawit yang digunakan sebagai bahan campuran Avtur.

Ketua Gapki Eddy Martono, menyampaikan jenis produk turunan sawit yang ideal digunakan adalah Palm Kernel Oil (PKO) atau minyak inti sawit bukan CPO (Crude Palm Oil) atau minyak sawit mentah hasil ekstraksi daging buah (mesocarp) kelapa sawit.

“Untuk Avtur bahan bakar jet atau pesawat lebih baik menggunakan Palm Kernel Oil bukan CPO,” ungkap Eddy kepada Kontan, Senin (13/04/2026).

Alasannya adalah karena Avtur (bahan bakar jet tipe kerosin seperti Jet A-1) terdiri dari campuran hidrokarbon yang memiliki jumlah atom karbon antara 8 hingga 16 per molekul atau C8-C16.

Baca Juga: Lonjakan Harga Avtur Imbas Geopolitik, Industri Penerbangan Tertekan

“PKO lebih banyak mengandung medium-chain fatty acids (MCFA) sehingga lebih mudah dikonversi jadi fraksi jet fuel. Sehingga hidroprosesnya bisa lebih ringan dibanding CPO,” jelasnya.

Adapun, terkait dengan kebutuhan sawit yang akan bersinggungan untuk kebutuhan pangan, serta mandatori Biodiesel atau B50. Eddy bilang, saat ini target campuran Avtur masih berfokus pada minyak goreng bekas atau Used Cooking Oil (UCO).

Sedangkan kebutuhan sawit khusus Avtur menurutnya perlu dihitung dengan melalui proses mandatori, seperti campuran sawit dengan solar. “Kebutuhannya (sawit) tinggal berapa persen mandatori-nya saja,” ungkapnya.

Jika melihat data, pengembangan Avtur dengan campuran sawit, atau turunan sawit baik berupa CPO maupun PKO belum terlaksana di Indonesia.

Adapun, berdasarkan data Kementerian ESDM, PT Pertamina (persero) sudah melakukan peluncuran komersial Avtur dengan campuran minyak jelantah (UCO) atau yang sering disebut sebagai Sustainable Aviation Fuel (SAF) pada Agustus 2025 lalu.

Baca Juga: Fuel Surcharge Pesawat Naik 38%, Ketahanan Avtur Masih Lemah

Hal ini ditandai dengan penerbangan perdana yang dilakukan maskapai Pelita Air rute Jakarta-Bali.

Pertamina menyatakan SAF berbahan baku UCO ini mampu memangkas emisi karbon hingga 84 persen dibandingkan avtur fosil.

Hal ini menjadi salah inovasi yang dikembangkan di Kilang RU IV Cilacap dengan campuran bioavtur hingga 2,4% (J2,4) melalui mekanisme coprocessing.

Uji coba pertama sebelumnya telah dilakukan pada bulan Oktober 2021 menggunakan pesawat teregistrasi militer Dirgantara Indonesia, CN235-200 FTB, rute Bandung-Jakarta.

Dua tahun kemudian, pada Oktober 2023, pengujian dilanjutkan untuk pesawat komersial dengan uji terbang Boeing 737-800 milik Garuda rute Jakarta-Solo-Jakarta. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×