kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.788.000   -12.000   -0,43%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Produk Kreatif Berbahan Baku Impor Ikut Tertekan Imbas Terpuruknya Nilai Tukar Rupiah


Jumat, 22 Mei 2026 / 20:17 WIB
Produk Kreatif Berbahan Baku Impor Ikut Tertekan Imbas Terpuruknya Nilai Tukar Rupiah
ILUSTRASI. Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS (TRIBUNNEWS/Jeprima)


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah turut menekan industri kreatif lokal, terutama pelaku usaha yang masih mengandalkan bahan baku impor. 

Asal tahu saja, pada Jumat (22/5/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 17.717 per dolar Amerika Serikat (AS). Di level ini, rupiah melemah 0,28% dibanding penutupan sebelumnya yang berada di posisi Rp 17.667 per dolar AS.

Sebelumnya, Direktur Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kementerian Perdagangan Ari Satria menyebut, secara teoritis, pelemahan mata uang Garuda dapat membuat harga produk kreatif lokal lebih kompetitif di pasar ekspor.

Baca Juga: Mitra Pack (PTMP) Incar Kenaikan Penjualan 15% pada 2026, Ini Faktor Pendorongnya

"Memang dengan pelemahan rupiah, seharusnya harga barang kita lebih bersaing. Tapi ini kan pelemahan rupiah baru signifikan seminggu ini, dampaknya belum terlihat," katanya usai agenda Mini Talkshow dan Pameran Rumah Tenun Magelang di Alun-Alun Indonesia, Grand Indonesia, Kamis (21/5/2026).

Adapun menurunnya nilai tukar rupiah juga bisa mengerek nilai ekspor dalam mata uang dolar AS.

Meskipun begitu, kenaikan biaya bahan baku impor tetap menjadi beban bagi pelaku usaha industri kreatif, sekalipun mereka juga mengekspor produk.

Hal ini dirasakan oleh Sendyleather, salah satu pelaku usaha produk kreatif tas dan dompet berbahan kulit yang telah mengekspor ke Malaysia dan Filipina. 

Pemilik Sendyleather, Sendy Deka Saputra mengatakan, merosotnya nilai tukar rupiah saat ini sangat berdampak ke peningkatan bahan baku pendukung produksi. Ini mencakup benang, lem, hingga hardware metal yang mayoritas diimpor dari China.

"Bahan baku naik hingga 20%, sehingga kami bingung menetapkan harga jual berapa. Apalagi, marketplace yang merupakan salah satu kanal terbesar kami juga biaya adminnya naik signifikan," jelasnya kepada Kontan, Jumat (22/5/2026).

Menurut Sendy, kenaikan harga tersebut memang telah terasa sejak konflik Timur Tengah. Akan tetapi, tunduknya rupiah di hadapan dolar AS baru-baru ini justru membuat dampak yang lebih parah bagi bisnisnya.

Dalam menghadapi tantangan ini, Sendy menyebut strategi yang dilakukan pihaknya ialah memilah produk, khususnya yang menjadi penopang penjualan.

Selain itu, Sendy juga melakukan penetapan ulang harga jual produk, seiring dampak langsung imbas kenaikan harga bahan baku.

"Produk mana yang menjadi core penjualan akan kami tingkatkan stoknya. Sedangkan yang hanya produk pelengkap pelan-pelan kami hentikan produksinya," curah Sendy.

Baca Juga: Ekonom: Platform OTT Berpotensi Raup hingga Rp 3 Triliun dari Siaran Piala Dunia 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×