kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.887.000   7.000   0,24%
  • USD/IDR 16.850   -59,00   -0,35%
  • IDX 8.951   -41,17   -0,46%
  • KOMPAS100 1.235   -4,75   -0,38%
  • LQ45 874   -1,52   -0,17%
  • ISSI 329   -0,59   -0,18%
  • IDX30 449   0,67   0,15%
  • IDXHIDIV20 532   3,66   0,69%
  • IDX80 137   -0,49   -0,35%
  • IDXV30 148   1,36   0,93%
  • IDXQ30 144   0,72   0,50%

Produksi Ditahan Bahlil, Smelter Bersiap Impor Bijih Nikel Dari Filipina 30 Juta Ton


Sabtu, 24 Januari 2026 / 12:34 WIB
Produksi Ditahan Bahlil, Smelter Bersiap Impor Bijih Nikel Dari Filipina 30 Juta Ton
ILUSTRASI. Smelter bijih NIKEL Vale Indonesia Tbk INCO (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Azis Husaini | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) memprediksi para perusahaan nikel akan mengimpor bijih nikel dari Filipina 30 juta ton karena kekurangan produksi di dalam negeri.

Hal ini lantaran Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hanya mematok produksi nikel sekitar 260 juta ton. Jumlah tersebut sangat kurang dibandingkan dengan kebutuhan pasokan smelter yang ada. 

Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey mengungkapkan pihaknya menargetkan impor bijih nikel bisa naik dua kali lipat dari tahun lalu yang hanya 15 juta ton. "Kemungkinan akan 30 juta ton," imbuh dia di sela-sela acara Indonesia Weekend Miner 2026, Sabtu (24/1).

Ia mengatakan impor bijih nikel untuk kebutuhan smelter di Tanah Air akan datang dari Filipina. Sejauh ini Indonesia sudah mengimpor 15 juta ton tahun lalu dari Filipina. "Dengan produksi hanya 260 juta ton, banyak smelter deg-degan," ungkap dia.

Meski demikian, kata Meidy, pada kuartal III-2026 biasanya akan ada revisi target produksi. "Tahun ini saya prediksi produksi bisa 400 juta ton (Dengan adanya revisi RKAB nanti)," ujar dia.

Namun demikian, hingga saat ini mayoritas perusahaan nikel belum bisa produksi karena RKAB 2026 belum direstui Kementerian ESDM. "Baru 1produksi yaitu Vale Indonesia, sekitar 400 anggota APNI lainnya belum produksi karena RKAB belum keluar," terang dia.

Meidy optimistis RKAB akan selesai hingga Maret 2026. "Cuaca seperti ini juga memang produsen tidak bisa produksi," kata Meidy.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, pemerintah tidak mempermasalahkan impor bijih nikel dari Filipina yang diperkirakan berada di kisaran 10 juta–15 juta ton.

Angka tersebut dinilai masih aman meski target produksi bijih nikel domestik tahun ini dipangkas menjadi 250 juta–260 juta ton

Selanjutnya: Strategi Sinar Eka Selaras (ERAL) 2026: Ekspansi Gencar, Tapi Ada Tekanan Margin?

Menarik Dibaca: 9 Manfaat Rutin Makan Buah Pepaya bagi Kesehatan Tubuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×