Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek bisnis industri kabel dan konduktor menurut Asosiasi Pabrik Kabel Listrik Indonesia (APKABEL) akan ditopang oleh meningkatnya permintaan dari sektor kelistrikan.
Ketua Umum Asosiasi Pabrik Kabel Listrik Indonesia (APKABEL), Noval Jamalullail menyebut salah satu penopangnya adalah penambahan transmisi yang akan dibangun mengikuti Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) sepuluh tahun ke depan, yaitu RUPTL 2025-2034.
“Prospek bisnis kabel dan konduktor tahun ini akan meningkat pesat khususnya dari sektor ketenagalistrikan. Hal ini terjadi karena dalam 3 tahun ke belakang ini proyek transmisi kurang atau tidak berjalan dengan baik,” ungkap Noval kepada Kontan, Senin (06/04/2026).
Tahun ini, APKABEL mencatat terdapat banyak bermunculan tender baru untuk periode 1-3 tahun ke depan.
“Investasi pabrik kabel juga naik, dengan adanya 3 anggota pabrik baru dan juga ekspansi dari pabrik-pabrik existing. Lebihnya, kenaikan bervariasi tergantung sektornya, yaitu antara 10%-30% sesuai RUPTL yang ada,” jelasnya.
Baca Juga: Trans Indonesia Superkoridor Teken LOI Pengembangan Kabel Laut Jakarta–Manado
Meski begitu, Noval mengatakan gejolak yang saat ini terjadi di Timur-Tengah secara tidak langsung juga berpengaruh pada ekspansi industri kabel di dalam negeri, terutama untuk pasokan bahan baku kabel.
“Namun semua ini masih tergantung dari situasi global yang ada di Timur Tengah dan negara lain. Demand and Planning Project pasti ada, tapi bahan baku yang sulit serta mengakibatkan harga naik bahkan tidak ada pasokan material, dan kurs USD (dollar) yang juga berpotensi naik terhadap IDR (rupiah),” tutupnya.
Sebagai gambaran, beberapa emiten sektor kabel dan konduktor mengalami perbaikan kinerja sepanjang 2025. Contohnya, PT Voksel Electric Tbk (VOKS) yang membukukan rugi bersih pada tahun 2025 sebesar Rp 68,6 miliar.
Melansir laporan keuangan yang dipublikasikan Bursa Efek Indonesia (BEI) angka ini membaik bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2024 yang mencetak kerugian sebesar Rp 89,2 miliar. Dengan demikian, rugi bersih per saham setara dengan Rp 16,34 per lembar.
Baca Juga: PLN Pastikan Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik di Tengah Gejolak Timur Tengah
Dalam catatan Kontan sebelumnya, VOKS mengejar pertumbuhan pendapatan dengan target kenaikan dobel digit atau 15% lebih tinggi dibandingkan capaian 2025. Direktur Utama Voksel Electric, Hua Shun menjelaskan, secara industri, permintaan kabel masih didorong oleh proyek-proyek kelistrikan, telekomunikasi dan infrastruktur.
“Kinerja laba diperkirakan tetap positif, didukung oleh upaya berkelanjutan dalam menjaga efisiensi biaya dan meningkatkan produktivitas di seluruh lini operasional," ungkap Hua Shun kepada KONTAN, Kamis (26/2/2026).
Di sisi lain, PT Jembo Cable Company Tbk (JECC) membukukan laba bersih pada tahun 2025 sebesar Rp 115,4 miliar. Naik bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2024 sebesar Rp 76,6 miliar. Dengan demikian, laba bersih per saham setara dengan Rp 152,61 per lembar.
Emiten kabel lainnya yang mencatatkan peningkatan laba adalah, PT Sumi Indo Kabel Tbk (IKBI) yang berhasil membukukan laba tahun berjalan sebesar US$6,58 juta sepanjang tahun buku 2025, atau melonjak 92,39% dibandingkan capaian tahun 2024 yang sebesar US$3,42 juta.
Baca Juga: Telkom (TLKM) Gandeng CCSI Garap Jaringan Kabel Laut Rute Gresik–Makassar–Takisung
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













