kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Prospek Galangan Kapal Cerah, Samudera Indonesia (SMDR) Garap Pasar Komersial


Minggu, 05 April 2026 / 19:11 WIB
Prospek Galangan Kapal Cerah, Samudera Indonesia (SMDR) Garap Pasar Komersial
ILUSTRASI. Kapal PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) (Dok/SMDR)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Peluang bisnis galangan kapal nasional masih terbuka lebar di tengah pergeseran fokus proyek badan usaha milik negara (BUMN) ke PT PAL Indonesia.

Pelaku industri menilai kondisi ini justru menciptakan ruang bagi galangan kapal swasta untuk memperkuat peran di pasar komersial.

PT Samudera Indonesia Tbk melihat permintaan jasa galangan kapal saat ini masih solid.

Hal ini tercermin dari antrean pembangunan kapal baru (backlog) yang telah terisi hingga beberapa tahun ke depan, baik di pasar global maupun domestik.

“Samudera menilai industri galangan kapal saat ini memiliki permintaan yang baik, ditandai dengan antrean operasional (backlog) pembangunan kapal baru hingga beberapa tahun ke depan di pasar global maupun domestik,” kata manajemen Samudera Indonesia kepada Kontan, Minggu (5/4/2026).

Baca Juga: Samudera Indonesia (SMDR) Alihkan Rute Timur Tengah, Antisipasi Lonjakan Biaya

Di tengah dominasi pemain besar seperti PT PAL yang menggarap proyek kapal BUMN, Samudera menilai terdapat peluang strategis bagi galangan swasta untuk menggarap segmen komersial. 

Peluang tersebut mencakup jasa pemeliharaan (docking), perbaikan (repair), hingga pembangunan kapal baru yang mendukung efisiensi distribusi logistik nasional.

Prospek ini turut ditopang oleh karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan yang bergantung pada transportasi laut. Kondisi tersebut mendorong kebutuhan berkelanjutan terhadap layanan galangan kapal.

Selain itu, regulasi yang mewajibkan kapal melakukan docking secara rutin turut menciptakan captive market bagi industri galangan. Alhasil, permintaan jasa dinilai relatif stabil dan berpotensi memberikan kontribusi jangka panjang bagi pelaku usaha.

Dari sisi pertumbuhan, Samudera menilai prospeknya tetap positif. Hal ini seiring masih adanya kesenjangan antara kapasitas galangan domestik dengan jumlah armada kapal yang beroperasi di Indonesia.

Baca Juga: Hadapi 2026, Samudera Indonesia (SMDR) Ekspansi Armada dan Rute Pelayaran

Dengan kata lain, pasokan fasilitas galangan saat ini dinilai belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Untuk menangkap peluang tersebut, Samudera melakukan ekspansi dengan membangun Galangan Samudera Madura. Fasilitas ini dilengkapi graving dock, jetty, floating area, serta sarana pendukung seperti workshop, hangar, dan pengelolaan limbah.

Proyek ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas layanan sekaligus menyasar potensi pasar di wilayah timur Indonesia yang terus berkembang.

Sebelumnya, Ketua Umum Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Anita Puji Utami mengatakan, industri galangan kapal dalam negeri sejatinya masih memiliki kapasitas untuk mengerjakan proyek pembangunan kapal baru, di samping bisnis reparasi yang selama ini menopang kinerja.

Ia menjelaskan, kontribusi pembangunan kapal baru di sejumlah wilayah seperti Jawa dan Sumatera berkisar 30%–40% dari total bisnis galangan. Sementara di kawasan Batam dan sebagian Kalimantan seperti Samarinda, porsi pembangunan kapal baru bahkan bisa mencapai 80%.

Baca Juga: Samudera Indonesia (SMDR) Bikin Entitas di Jepang, Pacu Ekspansi Offshore

“Artinya, secara kapasitas industri masih ada ruang untuk mengerjakan proyek baru. Ini menjadi peluang pertumbuhan di tahun ini,” ujar Anita kepada Kontan, Kamis (2/4/2026).

Meski demikian, rencana agar seluruh proyek kapal BUMN dikerjakan oleh PT PAL dinilai harus mempertimbangkan kemampuan produksi perusahaan pelat merah tersebut, baik dari sisi kapasitas fasilitas maupun kualitas pengerjaan.

Menurut Anita, jika volume proyek terlalu besar dan terpusat, maka berpotensi menimbulkan bottleneck produksi. Karena itu, ia mendorong adanya sinergi antara galangan kapal BUMN lain seperti PT Dok dan Perkapalan Surabaya (DPS), PT Industri Kapal Indonesia (IKI), hingga sektor swasta.

“Bisa saja nantinya dikerjakan secara kolaboratif, misalnya melalui pembagian blok produksi ke galangan swasta. Ini justru bisa menciptakan ekosistem industri yang lebih sehat dan kompetitif,” jelasnya.

Selain itu, opsi mekanisme tender terbuka secara business-to-business (B2B) juga dinilai lebih efektif untuk mempercepat proses produksi sekaligus menjaga transparansi dan kualitas proyek.

Dari sisi permintaan, Anita menilai prospek bisnis galangan kapal tetap positif. Hal ini tercermin dari masih tingginya kebutuhan kapal di berbagai sektor, mulai dari ferry, tug and barge untuk industri tambang, hingga kapal penunjang migas seperti anchor handling tug supply (AHTS).

Baca Juga: Samudera Indonesia (SMDR) Optimistis Kinerja 2025 Cemerlang, Pacu Ekspansi Armada

“Tanpa keberpihakan pemerintah pun, saat ini sudah banyak sektor swasta yang mempercayakan pembangunan kapal di dalam negeri,” ungkapnya.

Ia menambahkan, potensi pertumbuhan industri ini akan semakin besar jika didukung kebijakan pemerintah, terutama dalam bentuk insentif bagi pelaku usaha yang membangun kapal di dalam negeri.

Menurutnya, industri galangan kapal memiliki efek berganda (multiplier effect) yang besar karena bersifat padat karya dan terhubung dengan berbagai industri pendukung, termasuk komponen kapal.

“Kalau ini didorong, bukan hanya galangan yang tumbuh, tetapi juga industri komponen dalam negeri sebagai bagian dari hilirisasi. Ini penting untuk kemandirian sektor maritim nasional,” katanya.

Baca Juga: Hadapi 2026, Samudera Indonesia (SMDR) Ekspansi Armada dan Rute Pelayaran

Sebelumnya, Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod mengungkapkan, perusahaan telah mengantongi pesanan lebih dari 20 kapal dari BUMN. Hal ini sejalan dengan arahan pemerintah melalui Danantara agar kebutuhan kapal BUMN dipenuhi dari produksi dalam negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...

Video Terkait



TERBARU

[X]
×