kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

PTPN perlu perluasan lahan agar tak ketinggalan


Selasa, 26 September 2017 / 22:02 WIB
PTPN perlu perluasan lahan agar tak ketinggalan


Reporter: Abdul Basith | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Perkebunan Nusantara (PTPN) tertinggal jauh dibandingkan dengan perusahaan sawit swasta. Permasalahan terbesar adalah luas lahan PTPN yang tidak pernah bertambah.

"Saat ini bila dibandingkan dengan industri swasta, lahan milik PTPN hanya sekitar 10%," ujar Iskandar Andi Nuhung, Direktur Eksekutif Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) kepada KONTAN (26/9).

Iskandar bilang mulanya PTPN yang memimpin pertumbuhan industri sawit di Indonesia. Namun, setelah itu PTPN dinilai tertuinggal jauh oleh industri swasta. hal tersebut dikarenakan industri swasta lebih cepat melakukan ekspansi dibandingkan dengan PTPN.

Saat ini luas lahan dari industri swasta menurut Iskandar sudah lebih dari 5 juta hektar (ha). Sementara menurut Iskandar luas perkebunan sawit milik PTPN hanya sekitar 700.000 ha.

Tidak hanya luas lahan, kualitas pohon pun dinilai Iskandar saat ini sudah ketinggalan dengan swasta. "Pohon sawit milik PTPN sudah tua sehingga CPO yang dihasilkan sedikit," terang Iskandar.

Iskandar bilang industri sawit penting bagi PTPN dikarenakan prospek CPO ke depan masih terus berkembang. Selain itu pengembangan industri sawit juga diperlukan untuk menjadi penyeimbang bagi industri sawit swasta.

Sebelumnya industri sawit milik PTPN sempat berjaya berjaya di nasional. Pada tahun 2011 hingga 2013 Iskandar menilai produksi PTPN sedang dalam puncaknya. Setelah itu produksi sawit PTPN terus turun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×