kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.819.000   -17.000   -0,93%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

RDMP Balikpapan, Ujung Tombak Pertamina Perkuat Ketahanan Energi Nasional


Jumat, 06 Desember 2024 / 14:44 WIB
RDMP Balikpapan, Ujung Tombak Pertamina Perkuat Ketahanan Energi Nasional
ILUSTRASI. Kontan - PT Pertamina (Persero) kilas Digital


Reporter: Tim KONTAN | Editor: Ridwal Prima Gozal

KONTAN.CO.ID - Sebagai perusahaan energi nasional, PT Pertamina (Persero) menghadapi tantangan trilema energi, yakni memastikan produksi migas nasional berjalan optimal demi mewujudkan ketahanan energi (energy security) dan menjamin keterjangkauan harga (energy affordability), sekaligus menerapkan prinsip keberlanjutan (environmental sustainability).

Pertamina mengelola tantangan tersebut dengan menjalankan tiga strategi keberlanjutan. Pertama, mempertahankan bisnis utama yaitu minyak dan gas bumi. Kedua, mengembangkan produk rendah karbon, dan ketiga, melakukan upaya pengimbangan karbon seperti carbon trading dan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCS/CCUS). Bisnis rendah emisi Pertamina sekaligus merupakan bukti komitmen perseroan dalam mendukung target net zero emission Indonesia tahun 2060.

"Kami ingin menjadi pionir dalam transisi energi, berkontribusi nyata dalam upaya keberlanjutan, dan menjadi katalisator bagi Indonesia dalam mencapai masa depan energi yang lebih hijau,” kata VP Corporate Communication PT Pertamina Fadjar Djoko Santoso saat menghadiri ajang COP (Conference of the Parties) ke-29, 11 November 2024 lalu di Baku, Azerbaijan.

Guna menjaga ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor energi, pemerintah Indonesia memiliki target meningkatkan produksi migas dari 700 ribu barel per hari (BPH) menjadi 1 juta BPH pada tahun 2030. Dalam rangka mewujudkan target tersebut, Pertamina mendapat amanah untuk menjalankan proyek strategis nasional.

Salah satu proyek strategis nasional itu di antaranya adalah mengembangkan kilang minyak dan petrokimia di Balikpapan dalam proyek Refinery Development Master Plan (RDMP). PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), yakni anak usaha PT Kilang Pertamina Indonesia (Subholding Refining & Petrochemical Pertamina), mengemban peran agar proyek RDMP Balikpapan berjalan lebih tangkas (agile) dan cepat.

Meningkatkan kapasitas dan profitabilitas

Proyek RDMP Balikpapan ditargetkan selesai seluruhnya pada 2025. RDMP Balikpapan akan meningkatkan kapasitas produksi Kilang Balikpapan dari 260 kilo barrel per day/kbpd (ribu barel per hari) menjadi 360 kbpd.

Selain itu, RDMP Balikpapan dapat menghasilkan produk-produk berkualitas yang memenuhi standar EURO V. Produk standar EURO V memiliki keunggulan lebih ramah lingkungan dengan bahan bakar minyak yang lebih berkualitas serta tingkat konsumsi yang lebih hemat.

Pembangunan RDMP Balikpapan juga bertujuan meningkatkan margin kilang dengan menambah kompleksitas kilang untuk menghasilkan lebih banyak produk bernilai tinggi. RDMP Balikpapan juga akan meningkatkan fleksibilitas pengolahan minyak mentah sehingga mampu mengolah minyak mentah dengan kadar sulfur yang lebih tinggi.

Proyek RDMP Balikpapan meliputi pembangunan New Workshop & Warehouse, Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Feed Tank, Boiler, New Flare BPP II, RFCC & RFCC NHT, dan Terminal Lawe-Lawe Facilities. Proyek terbesar sepanjang sejarah Pertamina ini memiliki total 5.203 equipment dengan berat mencapai 110.000 ton. Equipment terberat ada pada RFCC First Regenerator dengan berat 1.099 ton. Sedangkan equipment tertinggi adalah propane/proylene dengan tinggi sekitar 110 meter.

Pembangunan RFCC Feed Tank dengan kapasitas 37 ribu m3 dan Tangki D-320-02A/B dengan kapasitas masing-masing 61 ribu m3 direncanakan sebagai tangki Hot Vacuum Residue untuk umpan unit RFCC. Sebelum digunakan untuk tangki RFCC, tangki ini akan digunakan sebagai tangki transisi pekerjaan Modifikasi Tangki Eksisting.

RFCC merupakan sebuah unit yang berfungsi meningkatkan profitabilitas kilang Pertamina melalui pengolahan residu menjadi produk bernilai tinggi. Unit RFCC ini dirancang memiliki kapasitas produksi sebesar 90.000 barel per hari.

Unit RFCC dapat meningkatkan margin kilang Pertamina di Balikpapan dengan produksi bernilai tinggi antara lain gasoline, LPG dan propylene. Produk gasoline yang dihasilkan akan memenuhi spesifikasi EURO V dan memiliki nilai oktan (RON) 92.

Selain meningkatkan profitabilitas kilang, unit RFCC juga berfungsi menyokong ketahanan energi. Beroperasinya RFCC akan berdampak terhadap peningkatan pasokan LPG dan propylene seiring bertambahnya produksi LPG dan propylene di kilang Balikpapan. Di samping itu, keutamaan lain RFCC adalah mengurangi atau meniadakan impor HOMC (high octane mogas component) sebagai komponen blending gasoline.

KPI juga merevitalisasi Terminal Lawe-Lawe dengan membangun unit baru SPL & SPM serta fasilitas dua tangki crude berkapasitas masing-masing 1 juta barel serta 1 Fire Tank. Fasilitas baru ini menerima pasokan minyak mentah dari kapal tanker (Single Point Mooring/SPM) dan mendukung aktivitas bongkar muat logistik berkapasitas 320 ribu Dead Weight Ton (DWT). Juga dilakukan pembangunan onshore & offshore unloading line 52" dari SPM menuju Terminal Lawe-Lawe sepanjang 20,2 km dan transferline 20" menuju kilang Balikpapan sepanjang 18,9 km.

RDMP Balikpapan akan meningkatkan kapasitas pengolahan kilang Pertamina sebanyak 100 ribu barel per hari. Selain memenuhi kebutuhan bahan bakar nasional, kilang Balikpapan juga nantinya akan menghasilkan produk petrokimia yaitu propylene sebesar 225 kilo ton per tahun (KTPA). Dengan peningkatan kapasitas tersebut, impor BBM dan petrokimia dapat dikurangi secara signifikan sehingga mampu menekan defisit neraca perdagangan atau Current Acount Deficit (CAD). 

Kilang ramah lingkungan

Pertamina berkomitmen menjalankan bisnis yang ramah lingkungan di setiap lini, tak terkecuali dalam pengoperasian RDMP Balikpapan. Proyek RDMP Balikpapan saat ini tengah menyelesaikan beberapa unit proses baru yang berperan penting dalam mendukung transisi kilang menuju green refinery atau kilang ramah lingkungan. Terdapat unit Diesel Hydrotreating (DHT), Naphtha Hydrotreating (NHT), Residual Fluid Catalytic Cracking Naphtha Hydrotreating (RFCC NHT), dan Sulphur Recovery Unit (SRU) untuk operasional kilang yang lebih ramah lingkungan.

Unit DHT akan mengurangi kandungan sulfur dalam bahan bakar diesel, sedangkan unit NHT dan RFCC NHT mengurangi kandungan sulfur dalam bahan bakar gasoline. Ketiga unit ini akan menghasilkan bahan bakar yang lebih bersih dan sesuai dengan standar EURO V dan berperan dalam pengurangan emisi sulfur dioksida (SO₂) yang berbahaya bagi lingkungan, mendukung kualitas udara yang lebih baik, serta meningkatkan efisiensi pembakaran bahan bakar.

Sedangkan unit SRU berfungsi untuk meminimalkan emisi sulfur dioksida dengan mengolah gas asam mengandung hidrogen sulfida (H₂S) yang dihasilkan dari unit proses menjadi produk sulfur elemental dengan kemurnian 99% yang bisa dimanfaatkan dalam berbagai industri lain. Dibangunnya unit SRU ini akan mengurangi emisi gas sulfur yang berpotensi merusak lingkungan dan meminimalkan risiko polusi udara.

“Teknologi pada unit-unit proses yang dibangun di Proyek RDMP Balikpapan dirancang agar tetap memenuhi regulasi lingkungan, baik nasional maupun internasional. Kriteria desain dalam proses atau unit produksi kilang dirancang untuk memenuhi standar emisi mengacu pada IFC Worldbank Guideline," jelas Direktur Utama PT Kilang Pertamina Balikpapan Bambang Harimurti.

Beberapa penerapan teknologi yang digunakan untuk mengurangi emisi di antaranya pemasangan teknologi De-NOx dan Scrubber untuk mengurangi kandungan NOx dan SOx pada gas buang Unit RFCC, penggunaan burner tipe Low NOx, dan penggunaan fuel gas pada heater. Selain itu, panas yang dihasilkan dari gas buang turbin gas dan fired heater dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan steam. Sistem proteksi tekanan (High Integrity Pressure Protection System/ HIPPS) serta sistem pemisahan cairan juga digunakan dalam operasional kilang untuk mencegah pembakaran hidrokarbon ke lingkungan.

Pendanaan terbesar

RDMP Balikpapan sebagai proyek strategis nasional membutuhkan pembiayaan berskala besar. Berkat kerja keras PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) dan PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB), proyek RDMP Balikpapan berhasil mendapatkan dukungan serta kepercayaan 4 Export Credit Agency (ECA) dan 22 bank swasta.

Capaian gemilang project financing RDMP Balikpapan turut memperoleh pengakuan sejumlah ajang internasional. Di antaranya, penghargaan “Asia Pacific - Petchem Deal of The Year” dalam ajang Project Finance International (PFI) Awards Tahun 2023 dan Best Corporate Trust Mandate dari The Asset Triple A Sustainable Investing Awards 2024.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso mengungkapkan, penghargaan internasional bagi proyek pendanaan RDMP Balikpapan merupakan hal positif, yang mencerminkan bahwa proyek Pertamina memiliki daya tarik bagi investor global, terutama industri keuangan dan pasar modal.

"Penghargaan ini berdampak positif tak hanya bagi proyek RDMP dan Pertamina, namun juga baik untuk perekonomian Indonesia karena mencerminkan kepercayaan investor terhadap proyek-proyek di dalam negeri, terlebih kilang Balikpapan merupakan salah satu proyek yang cukup besar. Kami berharap, penyelesaian proyek kilang yang dijalankan Pertamina dapat mewujudkan kemandirian energi nasional," tandas Fadjar

Sebagai proyek strategis nasional dengan investasi terbesar, RDMP Balikpapan juga membawa multiplier effect bagi pertumbuhan ekonomi daerah karena melibatkan perusahaan daerah, menyerap tenaga kerja lokal, serta TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) yang ditargetkan mencapai 30-35 %.

“Serapan TKDN RDMP Balikpapan sudah mencapai 33,9%. Total, proyek ini menyerap ribuan tenaga kerja terutama saat puncak konstruksi mencapai 26.000 tenaga kerja,” ujar Corporate Secretary PT Kilang Pertamina Internasional Hermansyah Y Nasroen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×