Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemerintah merelaksasi target produksi batubara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 berpotensi menjadi katalis positif bagi industri alat berat.
Pelaku usaha berharap kebijakan tersebut dapat mendorong kembali investasi sektor pertambangan yang sempat tertahan akibat pengetatan kuota produksi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah akan melakukan relaksasi RKAB batubara secara terukur mengikuti perkembangan harga komoditas global.
Baca Juga: Asosiasi Pertambangan Dukung Relaksasi Produksi Batubara, Dongkrak Penerimaan Negara
"Kita selalu mengikuti perkembangan dengan kita akan melakukan relaksasi (RKAB) yang terukur. Artinya kalau harganya bagus kita akan meningkatkan produksi," ujar Bahlil dalam konferensi pers di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (8/6/2026).
Sebelumnya, Kementerian ESDM merencanakan produksi batubara melalui RKAB 2026 di kisaran 600 juta ton. Angka tersebut lebih rendah dibanding RKAB batubara 2025 yang mencapai 1,2 miliar ton, dengan realisasi produksi nasional sekitar 790 juta ton.
Ketua Umum Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia Yushi Sandidarma menilai, pasar alat berat masih menunggu sejumlah kepastian kebijakan sebelum meningkatkan investasi secara agresif. Pasalnya, sebagian besar pelanggan masih bersikap wait and see sambil menunggu kejelasan petunjuk pelaksanaan ekspor satu pintu.
Meski demikian, penjualan alat berat jenis excavator hingga saat ini tercatat meningkat sekitar 22% dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Senada, Presiden Direktur PT Multicrane Perkasa Ardianus Hadiwinata mengatakan, relaksasi RKAB menjadi sentimen positif bagi sektor pertambangan karena memberikan ruang bagi perusahaan tambang untuk mengoptimalkan produksi.
"Jika implementasinya berjalan sesuai rencana, kebijakan ini dapat memberikan ruang bagi perusahaan tambang untuk mengoptimalkan produksi dan menjaga aktivitas operasional tetap berjalan dengan baik," ujarnya kepada Kontan, Selasa (9/6/2026).
Ardianus menambahkan, peningkatan aktivitas tambang berpotensi menopang permintaan alat berat menjelang semester II 2026 yang secara historis menjadi periode dengan aktivitas lebih tinggi.
Kendati demikian, ia mengingatkan dampak kebijakan tersebut masih bergantung pada realisasi di lapangan dan perkembangan pasar ke depan.
"Saat ini kondisi pasar alat berat relatif stabil dan masih berada pada level yang kurang lebih sama dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Aktivitas sektor pertambangan masih cukup baik, meskipun pelanggan tetap selektif dalam melakukan investasi dan lebih fokus pada produktivitas serta efisiensi operasional," jelasnya.
Sementara itu, Direktur PT Intraco Penta Tbk Willianto Febriansa menilai relaksasi RKAB dapat menjadi angin segar bagi industri alat berat yang sempat tertekan sepanjang awal tahun.
Menurutnya, peningkatan kuota produksi akan mendorong perusahaan tambang kembali menambah investasi alat berat untuk mendukung operasional.
"Dengan adanya relaksasi RKAB maka pengusaha dapat meningkatkan kapasitas produksi dan penjualannya. Kenaikan produksi akan membutuhkan tambahan alat berat," ujar Willianto kepada Kontan, Selasa (9/6/2026).
Ia menambahkan, selama ini kebijakan RKAB yang lebih ketat membuat banyak perusahaan tambang menunda belanja modal (capital expenditure/capex) untuk pembelian alat berat baru.
Willianto mengungkapkan mayoritas perusahaan alat berat mengalami penurunan penjualan pada kuartal I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Salah satu faktor yang membebani industri adalah keterlambatan persetujuan RKAB serta pengurangan target produksi batubara.
Dengan potensi pelonggaran RKAB dan harga batubara yang masih menarik, pelaku industri berharap permintaan alat berat dapat kembali menguat pada paruh kedua tahun ini seiring meningkatnya aktivitas produksi di sektor pertambangan.
Baca Juga: Champion Pacific (IGAR) Targetkan Bisnis Tumbuh 9,69% di Industri Farmasi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













