kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.819.000   -17.000   -0,93%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Rencana SNI wajib pelumas masih tuai pro kontra


Rabu, 19 Oktober 2016 / 10:55 WIB
Rencana SNI wajib pelumas masih tuai pro kontra


Reporter: Umi Kulsum | Editor: Rizki Caturini

JAKARTA. Rencana Kementerian Perindustrian menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk pelumas menuai pro kontra. Distributor dan importir pelumas menolak rencana SNI wajib untuk pelumas tersebut dengan alasan akan menyulitkan bisnis mereka. 

Paul Toar, Ketua Perhimpunan Distributor, Importir, dan Produsen Pelumas Indonesia bilang, industri pelumas nasional ketergantungan dengan impor. "Pelumas berbasis minyak dan itu impor, zat aditif pada pelumas termasuk mesinnya juga impor," kata Paul kepada KONTAN, Sabtu (15/10).

Jika SNI wajib berlaku, Paul bilang, pelaku industri pelumas dalam negeri mesti mengimpor lagi mesin-mesin produksi. Tak hanya itu, pelaku industri mesti merogoh kocek lagi untuk mengurus SNI. 

Sebaliknya, produsen pelumas justru mendukung SNI wajib pelumas tersebut. Andria Nusa, Direktur Sales & Marketing PT Pertamina Lubricants bilang, SNI wajib pelumas justru menangkal peredaran pelumas bermutu rendah. "Kami justru mendorong pemerintah mementingkan konsumen, agar kualitas sesuai dengan yang diharapkan," kata Andria.
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×