kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45924,01   -11,51   -1.23%
  • EMAS1.345.000 0,75%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Restrukturisasi Menjadi Momentum Perbaikan Bagi Asia Pacific Fibers (POLY)


Kamis, 01 Desember 2022 / 19:15 WIB
Restrukturisasi Menjadi Momentum Perbaikan Bagi Asia Pacific Fibers (POLY)
ILUSTRASI. Restrukturisasi Asia Pasific Fibers (POLY) dinilai menjadi momentum perbaikan industri TPT. KONTAN/Daniel Prabowo/15/07/2010


Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asia Pacific Fibers Tbk (POLY) mengimbau para kreditur berjaminannya baik dari unsur swasta maupun pemerintah untuk mempercepat proses pembahasan solusi restrukturisasi Perseroan yang saat ini sedang berlangsung dalam koordinasi Satgas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Direktur Utama POLY Ravi Shankar mengatakan jika keputusan restrukturisasi dinilai sangat penting untuk menyehatkan neraca keuangan Perseroan dalam upaya mendapatkan modal kerja baru guna pembaruan teknologi dan permesinan.

Dalam diskusi, Manajemen POLY juga melaporkan perkembangan status restrukturisasi perusahaan dimana saat ini telah berlangsung sejumlah komunikasi antar kreditur berjaminan APF dalam rangka merumuskan solusi yang implementatif untuk Perseroan.

Baca Juga: Asia Pacific Fibers (POLY) Raih Pendapatan US$ 316,14 Juta Per Kuartal III-2022

Penuntasan pembahasan solusi antar kreditor akan berdampak signifikan baik bagi Perseroan maupun bagi industri. Status APF yang going concern hingga saat ini memungkinkan Perseroan meningkatkan kinerja dengan tanpa membutuhkan waktu tunggu.

“Dalam usia hampir empat dekade, POLY terbukti tangguh dan memiliki resiliensi yang kuat terhadap beragam turbulensi dengan tetap berkontribusi. Saat ini, adalah masa-masa kritikal yang sangat penting untuk penyelesaian restrukturisasi APF, baik bagi perusahaan maupun industri," ujar Ravi dikutip dari keterangan resmi yang diterima Kontan, Kamis (1/12).

Ia melanjutkan dari sisi ini, Perseroan sebagai pemegang lebih dari 20% pangsa pasar polyester nasional secara langsung akan memperkuat rantai industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) nasional yang sedang dalam kondisi memprihatinkan.

Ravi menyebutkan bahwa hingga kuartal III 2022, kinerja perusahaan terpantau sangat baik, hampir menyentuh level yang sama dengan kinerja penuh 2021.

Namun demikian, sejak akhir kuartal III hingga saat ini, kinerja ekspor terganggu karena pecahnya perang antara Ukraina dan Rusia sedangkan pasar domestik terganggu karena kebanjiran produk impor.

“Meski konsumsi dalam negeri kuat, (pasar) domestik mendapat turbulensi karena membanjirnya barang impor karena relaksasi regulasi importasi," sambung Ravi.

Dalam presentasi kinerja perusahaan, Sekretaris Perusahaan POLY Tunaryo menyebutkan bahwa hingga September 2022 Perseroan telah membukukan penjualan hingga US$ 314juta atau meningkat dari periode yang sama di 2021 yaitu US$ 262 juta.

Tunaryo menambahkan bahwa meski dari sisi nilai penjualan tercatat naik, dari segi volume tidak terlalu tumbuh karena peningkatan penjualan pada dasarnya didorong oleh kenaikan harga bahan baku. Dia menjelaskan bahwa hingga kuartal III, Perseroan menargetkan pendapatan penjualan sebesar USD406 juta.

 

"Namun demikian, asumsi ini dapat berubah sewaktu-waktu, seiring dengan perkembangan ekonomi yang extraordinary dalam beberapa bulan terakhir," ucapnya.

Kepala Komunikasi Korporat dan Humas Prama Yudha Amdan menambahkan bahwa Perseroan saat ini terdampak dari ketidakstabilan pasar TPT secara umum. Kombinasi siklus pasar, pelemahan ekspor dan relaksasi impor membuat market domestik menjadi area persaingan yang tidak sehat antara produsen lokal dengan barang dumping impor.

"Dalam merespon anomali ini, melalui dua asosiasi utama industri yakni Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSFYI) dan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), kami tengah berjuang untuk melakukan penertiban atas produk-produk yang diimpor secara dumping atau mekanisme tidak adil lainnya," tambah Yudha.

POLY berharap bahwa sementara menanti pemulihan ekonomi global, konsumsi masyarakat yang sangat besar dapat seoptimal mungkin diserap oleh industri domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×