Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Keputusan pemerintah untuk melakukan pemangkasan produksi melalui pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) nikel tahun ini di angka 260-270 juta ton, berdampak pada menurunnya kinerja sejumlah smelter atau pabrik pemurnian nikel di dalam negeri.
Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) membeberkan terdapat tiga smelter yang mengalami penurunan produksi akibat pemangkasan ini adalah PT Huadi Nickel Alloy Indonesia (HNAI) di Bantaeng, Sulawesi Selatan; PT Wanxiang Nickel Indonesia di Morowali, Sulawesi tengah; dan PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) di Morowali.
“3 smelter sudah kami konfirmasi (kolaps). Huadi shutdown total, Wanxiang tinggal 2 line, Gunbuster shutdown 5 line dari 20 line,” kata Sekretaris Umum APNI Meidy Katrin Lengkey saat ditemui di sela diskusi RKAB yang dilaksanakan oleh APINDO di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Disisi lain, Meidy bilang pemenuhan bijih nikel yang berasal dari impor juga sulit dilakukan. Karena Filipina sebagai negara eksportir, juga telah memiliki kontrak jangka panjang dengan China serta target untuk membentuk ekosistem hilirisasi nikel sendiri di negaranya.
Baca Juga: Maxim Janji Cairkan Bonus Hari Raya Lebih Gede, Begini Kriteria Penerimanya
“Nggak bisa lagi. Mereka cuma bisa 35 juta ton (produksi) harganya nggak bisa (mahal). Dia kasihan di sana, Filipina lebih seret dari Indonesia,” kata Meidy.
Adapun Meidy menyebut, produksi Filipina tahun ini berada di angka 50 juta ton. Sedangkan, negara tersebut sudah memiliki kontrak jangka panjang dengan China sebesar 28-30 juta ton.
“Konfirm ada 37 Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang produksi di Filipina, itu total menghasilkan maksimal 50 juta ton, di mana mereka sudah mendapatkan kontrak dari China yang tidak bisa diganggu gugat sekitar 28-30 juta ton,” ungkap Meidy dalam paparannya, Senin (2/3/2026).
Dengan kontrak China tersebut, artinya Filipina hanya bisa memasok setidaknya 22-23 juta ton ore nikel ke Indonesia.
“Yang bisa diekspor ke Indonesia hanya 23 juta ton konfirm, gak tau apakah ada penambahan IUP di Filipina atau enggak, tapi sepertinya susah,” tambahnya.
Sebagai gambaran, kebutuhan ore nikel untuk smelter tahun ini berada di angka 380-400 juta ton tahun ini. Dengan produksi berada di angka 270 juta ton, dengan impor yang disanggupi dari Filipina sebesar 23 juta ton, Indonesia masih butuh 90 juta ton ore untuk memenuhi kebutuhan seluruh smelter.
Baca Juga: Sumber LNG Tidak Cukup, Ini AlasanPLN Kejar Target Pembangkit Nuklir 7 Gigawatt
“Demand (smelter) yang sebenarnya, bisa dikira 380 juta 400 juta tahun ini (kebutuhan smelter), kalau 270 juta (produksi), impornya 23 juta, artinya ada minus 90 juta,” ungkap Meidy.
Dua negara penghasil nikel lainnya yaitu Papua Nugini dan Kaledonia Baru dinilai memiliki produksi kebutuhan dalam negeri, sehingga tidak potensial impor berasal dari dua negara ini.
“Sedangkan New Maclodonia dan Papua Nugini tidak mungkin untuk kita impor,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












