kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Rupiah Jatuh ke Level Rp 16.000 per Dolar AS, Begini Efeknya Bagi Eksportir


Rabu, 18 Desember 2024 / 17:41 WIB
Rupiah Jatuh ke Level Rp 16.000 per Dolar AS, Begini Efeknya Bagi Eksportir
ILUSTRASI. Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) menyebut tren pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga bisa merugikan eksportir.


Reporter: Dimas Andi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) menyebut tren pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga bisa merugikan bagi para pelaku usaha berorientasi ekspor.

Sebagaimana diketahui, akhir-akhir ini kurs rupiah kembali terjerembab ke level Rp 16.000 per dolar AS. Berdasarkan Bloomberg, rupiah spot ditutup pada level Rp 16.098 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (18/12), menguat tipis 0,02% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.101 per dolar AS.

Sekretaris Jenderal GPEI Toto Dirgantoro mengatakan, di atas kertas produsen manufaktur berorientasi ekspor berpotensi meraih keuntungan lebih melalui penjualan produk di pasar internasional ketika dolar AS menguat. 

Baca Juga: Ekspor Furnitur Indonesia Diuntungkan Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar AS

Ini dengan catatan bahwa bahan baku produk yang bersangkutan seluruhnya berasal dari dalam negeri.

Namun, kondisi sebaliknya dialami oleh eksportir yang mengandalkan bahan baku dari impor. Biaya produksi mereka berpotensi membengkak lantaran harga beban pembelian bahan baku impornya mengalami kenaikan seiring tren koreksi rupiah.

“Pengusaha bisa mengalami rugi kurs, padahal pendapatannya bukan dalam dolar AS,” kata Toto, Rabu (18/12).

Alhasil, secara umum pergerakan kurs rupiah yang fluktuaktif sebenarnya bukan situasi yang disukai oleh para pelaku usaha. 

Pasalnya, para pengusaha mengalami kesulitan dalam memproyeksikan kebutuhan belanja bahan baku hingga penjualan produknya.

Baca Juga: Fokus Stabilkan Rupiah Jadi Alasan BI Belum Pangkas Suku Bunga Acuan

GPEI mengaku, para produsen berorientasi ekspor pada dasarnya telah menjajal berbagai strategi efisiensi untuk mengantisipasi efek pelemahan kurs rupiah. 

“Tapi upaya ini sulit karena pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh faktor global,” tutur dia.

Toto pun berharap pemerintah dapat melakukan upaya-upaya serius untuk menjaga kondisi ekonomi nasional, sehingga kurs rupiah tidak semakin tergerus di hadapan dolar As di kemudian hari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×