kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.546.000   -13.000   -0,51%
  • USD/IDR 18.159   -7,00   -0,04%
  • IDX 5.057   -41,01   -0,80%
  • KOMPAS100 651   -4,49   -0,68%
  • LQ45 515   -0,12   -0,02%
  • ISSI 169   -2,02   -1,18%
  • IDX30 290   0,46   0,16%
  • IDXHIDIV20 392   3,47   0,89%
  • IDX80 75   -0,37   -0,49%
  • IDXV30 109   1,70   1,58%
  • IDXQ30 98   0,32   0,33%

Rupiah Tembus Rp 18.100, APINDO Minta Insentif Hedging untuk Industri Padat Karya


Jumat, 30 Oktober 2026 / 17:20 WIB
Rupiah Tembus Rp 18.100, APINDO Minta Insentif Hedging untuk Industri Padat Karya
ILUSTRASI. Danang Girindra, Dewan Pakar APINDO (KONTAN/Yoyok Handoyo)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 18.100 per dolar Amerika Serikat (AS) menambah tekanan terhadap industri padat karya. 

Kenaikan biaya produksi akibat ketergantungan pada bahan baku impor berisiko menggerus margin perusahaan hingga mempengaruhi aktivitas produksi dan penyerapan tenaga kerja.

Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Danang Girindrawardana menilai, pelemahan rupiah di atas Rp 18.100 per dolar AS sudah menjadi ancaman serius bagi industri padat karya. Pasalnya, sejumlah sektor manufaktur masih bergantung pada bahan baku, bahan penolong, dan mesin impor.

Berdasarkan catatannya, pelemahan rupiah telah menambah beban biaya produksi industri tekstil dan manufaktur padat karya sekitar 8%-12%. Sementara itu, sekitar 70% kebutuhan bahan baku, bahan penolong, dan mesin industri masih berasal dari impor.

"Industri padat karya sangat terancam dengan pelemahan rupiah di atas Rp 18.100. Karena itu, perlu kebijakan hedging murah dan mungkin pembebasan pajak impor bahan baku untuk semua karakter industri, baik di kawasan berikat ataupun kawasan umum," ujar Danang kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).

Baca Juga: Apindo Sebut Target Utilisasi Industri 80%-85% Cukup Ambisius

Danang mengatakan, tekanan tersebut sulit langsung diteruskan ke harga jual. Di tengah daya beli masyarakat yang belum kuat, kenaikan harga berisiko membuat produk dalam negeri kehilangan daya saing terhadap barang impor yang lebih murah.

Menurut dia, banyak perusahaan saat ini masih menahan kenaikan harga jual dengan menyerap tambahan biaya produksi. Padahal, margin industri padat karya relatif tipis, yakni di bawah 7%.

"Industri tidak bisa langsung menaikkan harga. Kalau kita naikkan 10%, konsumen bisa langsung lari ke barang impor murah. Jadi margin yang tadinya sekitar 6% bisa langsung habis, pabrik akan jatuh rugi," jelasnya.

Jika rupiah bertahan di level tersebut, Danang memperkirakan tingkat utilisasi industri yang saat ini berada di kisaran 70% berisiko kembali turun hingga sekitar 50%. Kondisi itu dapat mendorong perusahaan mengurangi jam kerja maupun jumlah shift produksi.

Menurut Danang, tekanan yang berlangsung berkepanjangan juga berpotensi memicu penutupan pabrik dan pengurangan tenaga kerja. Karena itu, pemerintah perlu memberikan perhatian serius terhadap dampak pelemahan rupiah terhadap keberlangsungan industri padat karya.

Untuk menjaga daya tahan industri, Danang mengusulkan sejumlah langkah kebijakan. Salah satunya adalah fasilitas lindung nilai atau hedging valuta asing dengan biaya murah bagi industri padat karya melalui dukungan Bank Indonesia (BI).

Selain itu, pemerintah dinilai perlu memberikan penundaan pembayaran PPh impor bahan baku serta memperketat pengawasan terhadap masuknya barang impor ilegal yang dapat menekan harga produk domestik.

Danang juga mendorong penurunan suku bunga kredit khusus bagi industri padat karya agar perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk menjaga arus kas dan mempertahankan kegiatan produksi di tengah tekanan nilai tukar.

Baca Juga: Bayang-Bayang Ketidakpastian Ekonomi, APINDO: Perusahaan Tahan Ekspansi Usaha

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×