kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.819.000   -17.000   -0,93%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Saranacentral Bajatama bidik pasar ekspor


Selasa, 14 Agustus 2012 / 08:30 WIB
Saranacentral Bajatama bidik pasar ekspor
ILUSTRASI. Harga promo J.CO terbaru 12-18 Juli 2021 yang lebih terjangkau bisa membuat bujet kulineran Anda menjadi lebih hemat. Dok: Instagram J.CO


Reporter: Albertus M. Prestianta | Editor: Dupla Kartini

JAKARTA. PT Saranacentral Bajatama Tbk menyiapkan strategi teranyar demi mendongkrak performa perseroan. Perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan dan perdagangan baja lapis ini berniat melempar produknya ke pasar luar negeri.

Direktur Utama Saranacentral Handaja Susanto mengungkapkan, pihaknya akan mengekspor produk baja lapis ke Malaysia dan Australia. "Realisasi ekspor dilakukan paling cepat pada kuartal IV-2012," ujarnya, Senin (13/8).

Strategi itu ditempuh Saranacentral lantaran laba perusahaan pada semester I tahun ini menurun dibanding laba di tahun sebelumnya, akibat rugi kurs.

Handaja menyebut, ekspor adalah salah satu cara untuk menjaga pertumbuhan sekaligus meningkatkan efisiensi ongkos produksi. Dengan ekspor, perusahaan dapat menekan rugi akibat selisih kurs.

Maklum saja, selama ini perusahaan berkode saham BAJA ini mengimpor bahan baku baja dari Taiwan dan Korea Selatan. Sebagian besar bahan baku, yakni sekitar 70% berasal dari luar negeri, sementara sisanya disuplai oleh PT Krakatau Steel Tbk.

Oleh karena pembelian bahan baku menggunakan dollar Amerika Serikat (AS), maka supaya tidak terlalu tertekan akibat fluktuasi nilai tukar, Handaya memutuskan untuk menjual kembali produk bajanya ke luar negeri. "Sehingga membeli dan menjual sama-sama dalam dollar," ujarnya.

Selama ini, Saranacentral menjual seluruh produksinya di dalam negeri. Handaja bilang, dalam jangka pendek, kontribusi ekspor terhadap penjualan memang belum besar. Namun Saranacentral tetap berharap adanya manfaat positif dari ekspor tersebut.

Menurut Handaja, kalau ekspor jadi teralisasi pada kuartal IV 2012, Saranacentral menargetkan penjualan ekspor itu dapat menyumbang 10% terhadap total penjualan perseroan.

Tambah lini produksi

Terkait kemampuan produksi, Handaja pun tidak merasa khawatir. Dia yakin, perusahaan bisa mencukupi kebutuhan, termasuk utuk memenuhi kebutuhan ekspor. Itu karena Saranacentral masih memiliki ruang untuk meningkatkan kapasitas produksinya.

Saat ini, perseroan memiliki satu pabrik di Karawang Timur dengan dua lini produksi utama. Pabrik itu memproduksi dua jenis baja lembaran canai dingin (cold rolled coil), yaitu jenis baja lapis seng (BjLS) dan baja lapis alumunium seng (BjLAS).

Menurut Handaja, kapasitas terpasang kedua lini tersebut mencapai 15.000 ton per bulan. Saat ini dalam satu bulan rata-rata produksi keduanya baru sebanyak 9.000 ton.

Di antara dua lini produksi itu, produksi di lini kedua belum maksimal. Lini produksi kedua berkapasitas terpasang 9.000 ton per bulan. Sementara saat ini, baru menghasilkan sekitar 3.000 ton. Itu sebabnya, perusahaan bakal menggenjot produksi di lini kedua hingga angka maksimal.

Bahkan, demi menambah produksi, Saranacetral juga sedang membangun lini produksi ketiga. Lini ketiga ini akan memproduksi varian baru, yaitu baja lapis alumunium seng (BjLAS) berwarna.

Lini produksi ke tiga ini menelan biaya investasi Rp 50 miliar. "Dananya berasal dari hasil IPO yang kami lakukan akhir tahun lalu," kata Handaja. Lini produksi yang berkapasitas produksi 4.000-5.000 ton sebulan itu diharapkan mulai beroperasi awal 2013.

Melalui penerapan strategi ekspor, penambahan varian produk, dan memperkuat efisiensi itu, perusahaan berharap performa perusahaan terus tumbuh. Tahun ini, BAJA mengincar penjualan sebesar Rp 1,2 triliun, atau naik 33,33% dibanding realisasi penjualantahun lalu yang sebesar Rp 900,35 miliar.

Meski penjualan diharapkan meningkat, perseroan berencana merevisi target laba yang dipatok sebesar Rp 80 miliar di awal 2012. Ini lantaran, pada paro pertama ini, keuntungan perusahaan turun 72,72% dibanding periode yang sama tahun lalu, yaitu menjadi Rp 12,98 miliar.

Padahal, penjualan dalam periode yang sama tercatat meningkat 28,82% menjadi Rp 551,19 miliar. Penurunan laba terjadi akibat rugi kurs dan kewajiban membayar utang jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×