kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45921,46   1,15   0.12%
  • EMAS1.343.000 -0,30%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Selaras Citra Nusantara Perkasa (SCNP) Luncurkan NIVA di Kuartal I-2023


Sabtu, 24 Desember 2022 / 13:55 WIB
Selaras Citra Nusantara Perkasa (SCNP) Luncurkan NIVA di Kuartal I-2023


Reporter: Jane Aprilyani | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dalam rangka mendukung industri alat kesehatan dalam negeri, PT Selaras Citra Nusantara Perkasa Tbk (SCNP) bersinergi dengan Institut Teknologi Bandung dalam pembuatan alat kesehatan. Yaitu NIVA atau Non Invasive Vascular Analyzer.

NIVA sendiri merupakan alat deteksi untuk penyakit kardiovaskular. NIVA adalah karya anak bangsa yang idenya berasal dari Tim Akademisi Elektromedis STEI-ITB.

Sinergi yang dibangun sudah berlangsung sejak tahun 2018 ini menghasilkan riset dan pengembangan alat kesehatan (alkes) NIVA untuk dikomersialkan ke puskesmas, klinik, rumah sakit umum daerah dan swasta seluruh daerah di Indonesia.

Chief Operation Officer SCNP Shirly Effendy mengatakan bahwa selama tiga tahun melakukan riset dan pengembangan dalam pembuatan NIVA, SCNP yakin bahwa kehadiran NIVA bisa membantu instansi rumah sakit akan kebutuhan alat kesehatan khususnya terkait penyakit jantung. Sebagai perusahaan manufaktur yang memasarkan produk kesehatan dan peralatan rumah tangga, Shirly bilang pemasaran NIVA akan dimulai pada kuartal I-2023.

Nilai investasi yang dikeluarkan SCNP untuk produksi dan pengembangan alat kesehatan ini disebut Shirly senilai Rp 10 miliar.

Baca Juga: Simak Agenda Ekspansi Selaras Citra Nusantara Perkasa (SCNP) pada Tahun Depan

"Untuk produksi dan distribusinya sebanyak 100 unit. Harga satu unitnya Rp 161 juta sudah termasuk PPN," ujar Shirly dalam Press Conference Hilirisasi Produk Hasil Riset NIVA di Jakarta, Jumat (23/12).

Shirly lebih lanjut menuturkan bahwa saat ini ketergantungan industri alkes domestik terhadap impor masih sangat tinggi. Shirly menyebut bahwa impor alat kesehatan mampu capai 81% sementara produksi lokal hanya 18,83%.

"Dengan adanya NIVA, menjadi alat kesehatan dalam negeri (AKD) pertama. Harga jual NIVA juga jauh lebih terjangkau. Perbandingannya 52%," kata Shirly.

Ke depannya Shirly bilang akan terus mengembangkan bisnis. Termasuk fokus menambah alat kesehatan dan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak khususnya ITB untuk bisnis alat kesehatan.

Tak hanya sekedar mendukung alat kesehatan dalam negeri, Gembong Primadjaja, Ikatan Alumni ITB menilai bahwa kehadiran NIVA juga turut membantu masyarakat yang ingin memeriksakan kesehatannya den menggunakan BPJS.

 

Walaupun belum ada kesepakatan dengan BPJS untuk memasukkan screening dengan NIVA dengan BPJS, Namun Gembong meyakini bahwa seluruh masyarakat bisa melakukan deteksi dini terkait penyakit jantung dengan NIVA. "Biaya pemeriksaannya murah, seperti makan di warteg," sebutnya.

Untuk kegiatan uji klinis perangkat NIVA, SCNP bersinergi dengan Tim Dokter pakar Jantung dari Pusat Jantung Nasional Harapan Kita (PJN Harkit). Dokter Suko Adiarto, Sp.JP (K), Ph.D (Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah PJN Harkit) menyatakan bahwa kehadiran NIVA sangat membantu tenaga medis dalam aktivitas screening kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×