kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.680.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.882   6,00   0,03%
  • IDX 6.374   105,97   1,69%
  • KOMPAS100 836   13,50   1,64%
  • LQ45 634   8,05   1,29%
  • ISSI 220   3,58   1,65%
  • IDX30 354   2,96   0,84%
  • IDXHIDIV20 429   0,94   0,22%
  • IDX80 95   1,52   1,62%
  • IDXV30 118   0,42   0,35%
  • IDXQ30 112   0,52   0,46%

Selatox Bangun Pabrik Toksin Botulinum di Cikarang, Kapasitas Capai 6,5 Juta Vial


Rabu, 12 Agustus 2026 / 22:00 WIB
Selatox Bangun Pabrik Toksin Botulinum di Cikarang, Kapasitas Capai 6,5 Juta Vial
ILUSTRASI. PT Selatox Bio Pharma (Dok/Selatox )


Reporter: Vina Elvira | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Selatox Bio Pharma (Selatox) memperluas bisnis biofarmasi di Indonesia melalui peresmian fasilitas manufaktur baru di Cikarang, Jawa Barat. Melalui peresmuan ini perusahaan mengumumkan telah memperoleh sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) atau Good Manufacturing Practice (GMP) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia.

Selatox merupakan perusahaan bioteknologi yang berfokus pada penelitian, pengembangan, manufaktur, serta komersialisasi produk toksin botulinum untuk pasar global.

Fasilitas manufaktur tersebut memiliki total luas bangunan mencapai 18.469 meter persegi dengan kapasitas produksi mencapai 6,5 juta vial per tahun.

Pabrik ini juga menjadi fasilitas manufaktur pertama di Indonesia yang secara khusus dirancang untuk memproduksi produk toksin botulinum. 

Baca Juga: Begini Strategi Diton Perkuat Pasar Cat Semprot Nasional dan Regional

Chief Executive Officer Selatox Joh Young Hoon menyatakan kehadiran fasilitas diharapkan dapat membawa perubahan pada rantaipasok yang selama ini sepenuhnya bergantung pada produk impor.

“Sertifikasi CPOB dan berdirinya fasilitas manufaktur Selatox di Cikarang memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar menyediakan basis produksi. Keduanya menjadi fondasi penting bagi terwujudnya kemandirian yang lebih kuat dalam industri biofarmasi Indonesia dan bagi Indonesia untuk berkembang menjadi pusat biofarmasi global," ungkapnya, dalam siaran pers, Rabu (12/8). 

Di fasilitas Cikarang, Selatox akan memproduksi produk toksin botulinumnya sendiri sekaligus membuka peluang contract manufacturing (CMO).

Ia menuturkan, fasilitas manufaktir ini dirancang dengan konsep pre-modular. Melalui konsep ini, kapasitas produksi dapat ditingkatkan hingga 13 juta vial per tahun tanpa mengganggu lini produksi yang sudah berjalan.


"Langkah ini tidak hanya memperluas kapasitas produksi Selatox, tetapijuga menjadi bagian dari upaya untuk memperkuat kemampuan manufaktur biofarmasi di Indonesia," tambahnya. 

Untuk menjaga kualitas produk sesuai dengan standar global yang ketat, Selatox menggunakan berbagai teknologi canggih dan sistem yang terintegrasi dalam penerapan manajemen mutunya.

Salah satunya fasilitas pengolahan air khusus serta sistem HVAC berperforma tinggi yang dirancang untuk memenuhi standar cGMP (current Good Manufacturing Practice). Teknologi ini digunakan untuk meminimalkan risiko kontaminasi mikroba maupun partikel selama proses produksi.

Selatox juga menerapkan teknologi pengisian aseptik menggunakan Restricted Access Barrier System (RABS), fungsinya untuk membatasi intervensi langsung operator selama proses produksi.

Seluruh kegiatan manufaktur Selatox juga didukung sistem digital yang terintegrasi. Sistem tersebut memungkinkan setiap data dikelola dan dipantau dengan baik di sepanjang proses produksi, sekaligus membantu mencegah perubahan data tanpa izin serta menjaga keakuratan dan integritas informasi.

Meski teknologi dan otomatisasi memainkan peran besar dalam proses produksi, kualitas tetap menjadi perhatian utama Selatox. Sebanyak 46% dari total tenaga kerja Selatox merupakan bagian dari tim QA (Quality Assurance) dan QC (Quality Control).

Ia menambahkan, pengembangan ekosistem biofarmasi Selatox juga dilakukan melalui Pusat R&D di Depok yang terhubung dengan fasilitas produksinya di Cikarang.

"Melalui kerja sama dengan berbagai universitas di Indonesia, pusat ini menjadi tempat untuk mengembangkan talenta di bidang biofarmasi sekaligus mempererat hubungan antara dunia industri dan akademisi," tambahnya. 

Ke depan, Selatox menargetkan pengembangan bisnis hingga pasar global. Perusahaan saat ini tengah mempersiapkan diri untuk memasuki uji klinis Fase 3 global pada 2027, dengan target meluncurkan produk pertamanya, toksin botulinum Selatox, secara komersial pada 2028.

Pada saat yang sama, Selatox juga mengembangkan toksin botulinum halal sebagai bagian dari pipeline generasi berikutnya, yang ditargetkan untuk dikembangkan pada 2030.

"Ke depan, langkah-langkah ini diharapkan dapat membawa Selatox melampaui pasar Indonesia dan berkembang menjadi pusat biofarmasi yang melayani kebutuhan pasar muslim dan industri wellness di tingkat global," pungkasnya. 

Baca Juga: Program Motor Listrik Nasional Dinilai Bisa Buka Lapangan Kerja, Ini Syaratnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×