Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penjualan lahan PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) di tahun ini kurang baik. Buktinya, sepanjang semester I-2020, perusahaan belum dapat menjual lahan industrinya.
Karena itu, BEST memilih untuk merevisi target penjualan kawasan industri hingga 15 hektare (ha) hingga akhir tahun ini.
Investor Relation BEST Seri mengatakan, target baru tersebut menilik hasil di semester I yang belum membukukan marketing sales. Sebelumnya, emiten kawasan industri ini memproyeksikan penjualan lahan seluas 30 ha di tahun 2020.
Baca Juga: Gelar RUPST, Bekasi Fajar (BEST) alokasikan laba untuk perkuat permodalan
Ia mengaku, dalam enam bulan pertama tahun 2020, perusahaan belum berhasil pembukuan marketing sales lantaran ada investor yang membatalkan dan ada juga yang menunda pembelian lahan.
"Belum ada penjualan karena ada cancel dan delay, tapi permintaan lahan industri tetap ada. Jadi kami akan fokus ke permintaan yang ada," kata dia kepada Kontan.co.id, Jumat (14/8).
Sayangnya, Seri enggan mengungkapkan siapa investor yang tengah melirik kawasannya. Yang jelas, dari permintaan yang muncul hingga tutup tahun BEST berharap mampu membukukan marketing sales sebesar 10 ha - 15 ha.
Adapun untuk harga jual, perusahaan masih mematok di harga Rp 2,6 juta - Rp 3,2 juta per m2.
Menilik laporan keuangan perusahaan, pendapatan BEST di semester I-2020 capai Rp 153,87 miliar. Realisasi tersebut turun 58,53% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 371,05 miliar.
Pendapatan tersebut ditopang dari penjualan tanah sebesar Rp 66,86 miliar. Nilai tersebut hasil penjualan lahan seluas 3 ha dengan harga jual rata-rata di level Rp 2,7 juta. Realisasi pendapatan penjualan lahan tersebut juga turun dibandingkan semester I-2019 yang mana mencatatkan sebesar Rp 300,31 miliar
Baca Juga: Kinerja anjlok di kuartal I, ini penjelasan manajemen BEST
Kemudian, pendapatan dari maintenance fee, service charges, air dan sewa berkontribusi sebesar Rp 58,17 miliar. Selanjutnya, berasal dari hotel sebesar Rp 4,26 miliar dan pendapatan lain-lain sebesar Rp 24,55 miliar.
Sementara untuk bottom line, BEST mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 37,25 miliar. Padahal di semester I-2019 perusahaan membukukan laba bersih Rp 114,48 miliar.
Dengan kondisi tersebut, BEST memproyeksikan kinerja tahun ini akan turun hingga 50% dibandingkan tahun 2019. "Pendapatan mungkin bisa turun 30%-50%," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)