Reporter: Leni Wandira | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Shelter Indonesia mulai mengakselerasi transformasi bisnis dengan mengintegrasikan teknologi ke dalam operasional, seiring meningkatnya kebutuhan dunia usaha terhadap sistem kerja yang lebih terukur, transparan, dan efisien.
Langkah ini menandai pergeseran posisi perusahaan, dari sekadar penyedia tenaga alih daya menjadi mitra strategis yang menawarkan solusi operasional berbasis ekosistem.
Artinya, layanan tidak lagi hanya bertumpu pada sumber daya manusia, tetapi juga didukung sistem digital yang terintegrasi.
Baca Juga: Prodia (PRDA) Buka Klinik Stem Cell, Kontribusi Diproyeksi Baru Terlihat 3 Tahun
Chief Executive Officer Shelter Indonesia Hari Wahyudin mengatakan, transformasi ini didorong oleh tuntutan klien terhadap kontrol operasional yang lebih kuat.
“Arah Shelter Indonesia ke depan adalah menjadi mitra strategis operasional yang mengintegrasikan sumber daya manusia dan teknologi, agar operasional klien dapat berjalan lebih terukur, transparan, dan terkendali,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (17/4/2026).
Sebagai bagian dari strategi tersebut, perusahaan meluncurkan platform digital Shelter+, yang mengintegrasikan berbagai layanan dalam satu sistem, mulai dari pengelolaan keamanan, kebersihan, hingga tenaga kerja fleksibel. Platform ini diharapkan dapat meningkatkan visibilitas dan efisiensi proses bisnis klien.
Dari sisi pasar, Chief Marketing Officer Shelter Indonesia Nino Mayvi menilai, kebutuhan klien kini telah bergeser.
Baca Juga: Whisky Live Jakarta 2026 Satukan Whisky, Wine, dan Sake daam Satu Platform
Perusahaan tidak lagi hanya mencari penyedia tenaga kerja, tetapi juga menginginkan transparansi dan kontrol yang lebih besar terhadap operasional.
“Pasar saat ini tidak hanya membutuhkan tenaga kerja, tetapi juga visibilitas, kontrol, dan transparansi. Karena itu, kami membangun solusi yang relevan dengan kebutuhan klien modern,” jelasnya.
Ia menambahkan, teknologi kini berperan sebagai enabler utama untuk memastikan proses kerja berjalan lebih terukur dan berbasis data, bukan sekadar pelengkap layanan.
Pandangan serupa disampaikan Business Consultant Shelter Indonesia, Gordon John Stevenson, yang menilai langkah ini merupakan respons strategis terhadap perubahan kebutuhan industri.
“Apa yang dibangun Shelter bukan sekadar digitalisasi, tetapi juga penegasan arah perusahaan dalam menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang,” ujarnya.
Baca Juga: Prodia (PRDA) Nilai Dampak Pelemahan Rupiah Terbatas, Bisnis Tetap Terjaga
Menurutnya, integrasi sistem operasional memberikan tiga nilai utama bagi dunia usaha, yakni visibilitas, keterukuran, dan kendali yang menjadi fondasi peningkatan efisiensi sekaligus daya saing.
Ke depan, Shelter Indonesia melihat model layanan alih daya akan semakin bergantung pada kemampuan integrasi antara sumber daya manusia dan teknologi, seiring meningkatnya kompleksitas dan dinamika operasional bisnis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













