kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45947,15   -9,97   -1.04%
  • EMAS977.000 -1,21%
  • RD.SAHAM -1.34%
  • RD.CAMPURAN -0.36%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.03%

Siasat Antam (ANTM) dan Vale (INCO) mengantisipasi fluktuasi harga nikel


Minggu, 14 Maret 2021 / 21:03 WIB
Siasat Antam (ANTM) dan Vale (INCO) mengantisipasi fluktuasi harga nikel
ILUSTRASI. Di tengah fluktuasi harga, strategi pengendalian biaya menjadi pegangan sejumlah emiten nikel menjaga kinerja.


Reporter: Muhammad Julian | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga komoditas tidak terlepas dari fluktuasi harga. Kecenderungan ini dapat dilihat misalnya pada pergerakan komoditas nikel.

Mengutip Bloomberg, harga nikel di bursa London Metal Exchange (LME) untuk kontrak pengiriman tiga bulanan sempat mencapai angka tertingginya sejak awal tahun di posisi US$ 19.709 per metrik ton pada 24 Februari 2021 lalu, naik 18,63% dibanding posisi harga 31 Desember 2020 yang sebesar US$ 16.613 per metrik ton.

Meski begitu, tren pergerakan harga tersebut cenderung terus menunjukkan penurunan hingga mencapai posisi US$ 16.013 per metrik ton pada perdagangan Jumat (12/3) lalu. Dibandingkan posisi 31 Desember 2020, harga nikel pada Jumat (12/3) juga turun 3,61%.

Di tengah fluktuasi harga yang ada, strategi pengendalian biaya menjadi pegangan sejumlah emiten nikel dalam menjaga kinerja. SVP Corporate Secretary PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), Kunto Hendrapawoko mengatakan, ANTM akan terus menjaga biaya produksi tetap rendah sembari terus melakukan evaluasi secara selektif dan cermat terhadap setiap perkembangan yang ada.

Baca Juga: Tesla tidak batal investasi di Indonesia, namun bukan bangun pabrik mobil

Dengan cara itu, ANTM berharap daya saing usaha produk perusahaan bisa tetap terjaga positif di tengah volatilitas harga komoditas internasional. “Pada prinsipnya Antam akan senantiasa melakukan evaluasi dan juga melihat perkembangan bisnis, dalam hal ini bisnis nikel global,” ujar Kunto kepada Kontan.co.id, Kamis (11/3).

Kunto berujar, ANTM melihat bahwa prospek bisnis nikel tahun ini masih tetap akan tetap baik seiring dengan outlook pertumbuhan industri pengolahan nikel di dalam negeri. Makanya, sambil menekan biaya produksi, ANTM juga masih mengejar pertumbuhan produksi.

ANTM menargetkan bisa memproduksi bijih nikel sebanyak 8,44 juta wet metric ton (wmt), meningkat 77% dibandingkan capaian produksi bijih nikel (unaudited) tahun 2020 yang sebesar 4,76 juta wmt.

Peningkatan produksi bijih nikel tersebut nantinya akan digunakan sebagai bahan baku pabrik feronikel ANTAM dan mendukung penjualan kepada pelanggan domestik. Segendang sepenarian, total penjualan bijih nikel ANTAM tahun 2021 juga ditargetkan mencapai 6,71 juta wmt, meningkat 104% dibandingkan capaian penjualan bijih nikel (unaudited) tahun 2020 yang sebesar 3,30 juta wmt. “Peningkatan target penjualan bijih nikel tersebut seiring dengan outlook pertumbuhan industri pengolahan nikel di dalam negeri,” tambah Kunto.

Baca Juga: Vale Indonesia (INCO) bakal optimalkan produksi demi antisipasi fluktuasi harga nikel

Sementara itu untuk komoditas feronikel, Antam menargetkan volume produksi dan penjualan di tahun 2021 sebesar 26.000 ton nikel dalam feronikel (TNi). Angka tersebut naik tipis dibanding capaian produksi dan penjualan (unaudited) tahun 2020 masing-masing sebesar 25.970 TNi dan 26.163 TNi. Target produksi tersebut sejalan dengan optimalisasi  produksi pabrik Feronikel Pomalaa di Sulawesi Tenggara.

Senada, Chief Financial Officer (CFO) INCO Bernardus Irmanto mengatakan bahwa INCO menjadikan strategi pengendalian biaya dan peningkatan produktivitas sebagai kunci dalam menyiasati fluktuasi harga. Salah satu contohnya seperti dengan cara mengefisienkan penggunaan energi setiap output produksi.

“Jadi fokus saja ke dua hal tersebut sambil memaksimalkan operasi produksi dengan tetap mengedepankan kesehatan dan keselamatan kerja,” tutur Bernardus saat dihubungi Kontan.co.id (10/3).

Baca Juga: ANTM dan Tiga Entitas Lainnya, Bersinergi dalam Holding BUMN Baterai Mulai Juni 2021

Diakui Bernadus, harga jual nikel INCO juga tidak terlepas dari pengaruh fluktuasi harga. Bernadus, INCO menggunakan rata-rata harga jual nikel bursa LME bulan sebelumnya dalam melakukan jual beli. Dus, semisal penurunan terjadi di bulan Maret, maka efeknya dirasakan di bulan April pada penjualan INCO.

Sedikit informasi, mengutip laman resmi perusahaan, INCO menjual nikel dalam bentuk matte, yaitu produk antara yang digunakan dalam pembuatan nikel rafinasi dengan kandungan rata-rata 78% nikel, 1% kobalt, serta 20% sulfur dan logam lainnya.

Tahun ini, INCO mengincar target produksi sekitar 64.000 ton. Angka tersebut lebih rendah dibanding target produksi INCO tahun sebelumnya. Dalam catatan Kontan.co.id, realisasi produksi nikel INCO di tahun 2020 mencapai 72.237 ton, sedangkan volume penjualannya mencapai sebanyak 72.846 ton.

Baca Juga: Pembangunan ulang tungku elektrik INCO mundur, simak rekomendasi analis berikut

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Financial Modeling & Corporate Valuation Fundamental Supply Chain Planner Development Program (SCPDP)

[X]
×