kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Sistem Komunikasi Kabel Bawah Laut (SKKBL) Jakabare putus, ini kata Indosat (ISAT)


Selasa, 06 April 2021 / 18:55 WIB
Sistem Komunikasi Kabel Bawah Laut (SKKBL) Jakabare putus, ini kata Indosat (ISAT)
ILUSTRASI. Logo Indosat ooredoo


Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sistem Komunikasi Kabel Bawah Laut (SKKL) Jakabare (Jakarta–Kalimantan–Batam–Singapura) milik PT Indosat Tbk. (ISAT) yang putus, dinilai tidak menimbulkan dampak kerugian apa pun.

Steve Saerang, SVP-Head of Corporate Communications ISAT, mengungkapkan Indosat menerapkan sistem redundancy untuk semua traffic backbone internasional sehingga tidak ada dampak langsung terhadap pelanggan selular.

"Indosat Ooredoo menginformasikan bahwa SKKL (Sistem Komunikasi Kabel Laut) Jakabare (Jawa, Kalimantan, Batam, Singapore) tadi pagi pukul 9.37 WIB terputus di area daratan Changi, Singapore karena adanya tanah yang amblas (sinkhole) di area daratan Singapore. Secara umum tidak ada dampak dari putusnya SKKL Jakabare tersebut," ujarnya kepada Kontan.co.id, saat dihubungi Selasa (6/4).

Baca Juga: Resmi! Indosat (ISAT) jual 4.200 menara ke Edge Point, nilainya capai US$ 750 juta

Ia melanjutkan, saat ini tim operasional sedang berusaha dengan intensif untuk mengembalikan sambungan. Pihaknya memproyeksikan, dalam waktu 2x24 jam, SKKL Jakabare sudah dapat digunakan kembali.

Steve sendiri memaparkan jika tahun 2020 lalu, pelanggan selulernya tumbuh 1,7% secara yoy menjadi 60,3 juta pelanggan per akhir tahun 2020. Adapun pendapatan rata-rata per Pelanggan (ARPU) meningkat menjadi Rp31.900 dari sebelumnya Rp27.900 didorong oleh peningkatan trafik data sebesar 52,8%.

Indosat juga mencatat kinerja operasional dengan peningkatan pengalaman video sebanyak 55,8% yoy, meningkatkan kecepatan 4G hingga dua kali lipat, dan secara signifikan meningkatkan kecepatan unggah sebanyak 88,4% yoy.

Selama tahun 2020, Indosat Ooredoo berhasil menjalin kemitraan dengan sejumlah perusahaan digital global seperti Facebook, Google, Cisco, dan Ericsson untuk menghadirkan teknologi terkini yang dapat mempercepat digitalisasi pengalaman pelanggan serta meningkatkan jaringan internet di Indonesia.

Pada tahun 2021, Indosat berkata akan melanjutkan peningkatan dan perluasan jaringan perusahaan dengan fokus pada pengembangan 4G/LTE dan Jaringan Video Grade yang mampu memberikan layanan internet yang semakin baik kepada pelanggan.

"Kami yakin bahwa momentum pertumbuhan ini akan berlanjut pada tahun 2021. Namun, karena ketidakpastian pemulihan ekonomi dari pandemi, dengan penuh pertimbangan kami optimis untuk mencapai pertumbuhan pendapatan sesuai dengan industri, marjin EBITDA di kisaran batas bawah level 40%, serta belanja modal di kisaran Rp 8 triliun," sambungnya.

Lebih lanjut, Indosat juga mencatatkan total pendapatan yang tumbuh sebesar 6,9% yoy pada akhir 2020, menjadi Rp27,9 triliun dan pendapatan seluler tumbuh sebesar 11,6% yoy menjadi Rp23,1 triliun.

Kenaikan paling besar terjadi pada pendapatan seluler menjadi senilai Rp 23,06 triliun, dari sebelumnya di akhir 2019 yang senilai Rp 20,67 triliun.

Sedangkan pendapatan multimedia, komunikasi daya, internet turun menjadi Rp 4,28 triliun dari sebelumnya Rp 4,78 triliun. Diikuti oleh turunnya pendapatan telekomunikasi tetap menjadi sebesar Rp 560,53 miliar dari sebelumnya Rp 662,47 miliar.

EBITDA tumbuh 16% yoy mencapai Rp11,4 triliun dan marjin EBITDA tercatat sebesar 40.9%, tumbuh sebesar 3.2 bps dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan Perseroan, selama 2020, ISAT membukukan kerugian Rp 716,72 miliar. Kinerja ini jauh berbeda dari capaian perusahaan dari periode yang sama tahun sebelumnya di mana tercatat laba bersih sebesar Rp 1,56 triliun.

Kerugian ini terjadi kendati pendapatan perusahaan mengalami kenaikan 6,92% secara tahunan. Kenaikan tersebut membuat pendapatan perusahaan di tahun lalu menjadi senilai Rp 27,92 triliun, dari tahun 2019 sebesar Rp 26,11 triliun.

Baca Juga: Ini alasan Indosat (ISAT) memilih Edge Point sebagai pembeli menara

Dari segi aset, nilai kas dan setara kas mengalami penurunan drastis menjadi senilai Rp 1,78 triliun dari setahun sebelumnya senilai Rp 5,88 triliun.

Aset total tercatat senilai Rp 62,77 triliun, terbilang stagnan dari posisi tahun sebelumnya yang senilai Rp 62,81 triliun. Nilai aset lancar turun menjadi Rp 9,59 triliun dari Rp 12,44 triliun dan aset tak lancar naik menjadi Rp 53,18 triliun dari Rp 50,36 triliun.

Liabilitas perusahaan juga tak bergerak tinggi selama satu tahun terakhir menjadi senilai Rp 49,86 triliun dari Rp 49,10 triliun. Tercatat liabilitas jangka pendek senilai Rp 22,65 triliun dan liabilitas jangka panjang senilai Rp 27,20 triliun.

Ekuitas perusahaan pada akhir Desember 2020 tercatat sebesar Rp 12,91 triliun, turun tipis dari Rp 13,07 triliun di akhir periode yang sama tahun sebelumnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×