Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yudho Winarto
"Kami yakin bahwa momentum pertumbuhan ini akan berlanjut pada tahun 2021. Namun, karena ketidakpastian pemulihan ekonomi dari pandemi, dengan penuh pertimbangan kami optimis untuk mencapai pertumbuhan pendapatan sesuai dengan industri, marjin EBITDA di kisaran batas bawah level 40%, serta belanja modal di kisaran Rp 8 triliun," sambungnya.
Lebih lanjut, Indosat juga mencatatkan total pendapatan yang tumbuh sebesar 6,9% yoy pada akhir 2020, menjadi Rp27,9 triliun dan pendapatan seluler tumbuh sebesar 11,6% yoy menjadi Rp23,1 triliun.
Kenaikan paling besar terjadi pada pendapatan seluler menjadi senilai Rp 23,06 triliun, dari sebelumnya di akhir 2019 yang senilai Rp 20,67 triliun.
Sedangkan pendapatan multimedia, komunikasi daya, internet turun menjadi Rp 4,28 triliun dari sebelumnya Rp 4,78 triliun. Diikuti oleh turunnya pendapatan telekomunikasi tetap menjadi sebesar Rp 560,53 miliar dari sebelumnya Rp 662,47 miliar.
EBITDA tumbuh 16% yoy mencapai Rp11,4 triliun dan marjin EBITDA tercatat sebesar 40.9%, tumbuh sebesar 3.2 bps dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan Perseroan, selama 2020, ISAT membukukan kerugian Rp 716,72 miliar. Kinerja ini jauh berbeda dari capaian perusahaan dari periode yang sama tahun sebelumnya di mana tercatat laba bersih sebesar Rp 1,56 triliun.
Kerugian ini terjadi kendati pendapatan perusahaan mengalami kenaikan 6,92% secara tahunan. Kenaikan tersebut membuat pendapatan perusahaan di tahun lalu menjadi senilai Rp 27,92 triliun, dari tahun 2019 sebesar Rp 26,11 triliun.