Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
Sayangnya, kenaikan jumlah pelanggan dan pendapatan FREN belum mampu membawanya perusahaan mencetak laba bersih. Pada tahun 2019, FREN mencatatkan kerugian Rp 2,2 triliun. Angka itu memang lebih mini dibandingkan dengan rugi bersih di 2018 yang sebesar Rp 3,55 triliun.
Namun, pada paruh pertama tahun ini, FREN masih menderita kerugian sebesar Rp 1,22 triliun. Angka ini pun lebih tinggi dari rugi bersih di periode yang sama tahun 2019 yang capai Rp 1,07 triliun.
Direktur FREN Antony Susilo menambahkan, alasan perusahaan masih mencatatkan kerugian karena ada biaya-biaya yang masih harus ditanggung perusahaan, termasuk untuk investasi dan ekspansi dalam perluasan jaringan.
Baca Juga: Smartfren (FREN) masih menderita rugi sebesar Rp 1,2 triliun
Dia mengakui, FREN masih memerlukan waktu untuk bisa membalikkan kinerja dan meraih laba bersih. "Tentu juga ada biaya opex, kami harus sewa tower, bayar listrik, maintenance. Salah satu faktor kenapa masih rugi. Kami masih ekspansi jaringan, kasih kami waktu dulu untuk memenuhi kapasitas jaringan tersebut," jelasnya.
Antony pun optimistis investasi perluasan jaringan seperti penambahan base transceiver station (BTS) secara agresif yang dilakukan FREN bakal membuahkan hasil. Begitu juga dengan upaya menggenjot pendapatan sehingga bisa tumbuh lebih tinggi ketimbang beban biaya.
Oleh sebab itu, rugi yang dialami FREN bisa terus tergerus. Pada tahun ini, target yang dibidik FREN pun tak muluk-muluk, yakni untuk memperkecil kerugian. "Dari tahun ke tahun kami berusaha menekan kerugian kita. Tahun lalu kami sudah berhasil menekan kerugian. Tahun ini kami sama, targetnya masih berusaha buttom line makin mengecil ruginya," terang Antony.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News