Reporter: Leni Wandira | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten pelayaran PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) melihat peluang kenaikan tarif angkut di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mempengaruhi rute pelayaran internasional.
Kondisi ini berpotensi menekan kapasitas angkut kapal, namun permintaan pengiriman barang dinilai tetap terjaga.
Direktur Utama PT Samudera Indonesia Tbk, Bani M. Mulia, mengatakan perubahan rute pelayaran akibat risiko konflik di sejumlah wilayah justru dapat membuka ruang kenaikan tarif angkut bagi pelaku industri pelayaran.
“Betul, ada peluang naik tarif angkut dan justru kapasitas akan tertekan. Muatan tetap akan ada permintaan sehingga kemungkinan banyak peluangnya,” ujarnya kepada Kontan, Senin (2/3/2026).
Baca Juga: Samudera Indonesia (SMDR) Alihkan Rute Timur Tengah, Antisipasi Lonjakan Biaya
Sebagai langkah mitigasi risiko, SMDR memastikan seluruh armada perusahaan saat ini tidak berada di wilayah konflik dan untuk sementara waktu tidak akan melewati kawasan tersebut.
“Semua armada Samudera saat ini kami pastikan sudah tidak ada di lokasi zona perang dan untuk sementara ini tidak akan melewati daerah tersebut,” jelasnya.
Perusahaan juga memutuskan untuk tidak melintasi jalur berisiko seperti Selat Hormuz. Sejumlah layanan pelayaran di kawasan Timur Tengah pun dialihkan ke rute lain untuk menjaga keselamatan operasional.
“Untuk saat ini kami tidak akan melewati area berisiko atau Selat Hormuz. Service di Middle East semua saat ini dialihkan,” katanya.
Menurut Bani, kondisi geopolitik yang memanas juga akan berdampak pada peningkatan biaya operasional perusahaan pelayaran, terutama dari sisi premi asuransi dan biaya bahan bakar kapal (bunker).
Baca Juga: Hadapi 2026, Samudera Indonesia (SMDR) Ekspansi Armada dan Rute Pelayaran
“Kami expect biaya asuransi dan bunker akan naik karena kondisi ini. Biaya operasional tentu akan naik. Namun demikian, kenaikan itu juga akan diimbangi oleh kenaikan tarif yang dikenakan sehingga akan mendorong revenue juga,” tambahnya.
Dari sisi prospek industri, SMDR menilai perdagangan global masih menunjukkan ketahanan. Pada 2025 lalu, kekhawatiran terkait potensi perang dagang Amerika Serikat sempat memicu ketidakpastian pasar, namun realisasinya dinilai lebih baik dari perkiraan.
Bani menjelaskan bahwa meskipun ekspor China ke Amerika Serikat mengalami penurunan, arus perdagangan negara tersebut justru meningkat ke kawasan Asia dan Eropa sehingga secara keseluruhan perdagangan dunia tetap tumbuh.
Memasuki 2026, SMDR bahkan melihat optimisme yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Perusahaan menilai potensi perubahan kebijakan perdagangan global dapat kembali mendorong pertumbuhan volume logistik.
“Memasuki 2026 kami melihat optimisme lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Ancaman perang dagang dari AS terbukti tidak efektif untuk keuntungan mereka sehingga kemungkinan kebijakannya akan berubah di tahun ini, yang berpotensi mendorong kembali pertumbuhan volume,” ujarnya.
Meski demikian, Bani menilai risiko geopolitik masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai oleh pelaku industri pelayaran. Ketegangan di Timur Tengah dan potensi konflik di wilayah lain masih dapat mempengaruhi stabilitas rute pelayaran global.
Baca Juga: Samudera Indonesia (SMDR) Bikin Entitas di Jepang, Pacu Ekspansi Offshore
“Risiko geopolitik dan peperangan di dunia masih tidak pasti. Perdamaian Timur Tengah belum bisa dipastikan sehingga ketegangan dan risiko masih tinggi untuk normalisasi rute pelayaran,” katanya.
Di tengah dinamika tersebut, SMDR tetap melanjutkan rencana ekspansi armada pada 2026. Perusahaan tengah memproses pemesanan sejumlah kapal baru guna menambah kapasitas angkut.
“Kami akan tetap menambah kapasitas dan membangun kapal baru. Saat ini kami dalam proses untuk memesan beberapa kapal baru,” ujar Bani.
Selain itu, SMDR juga mencermati perkembangan infrastruktur logistik nasional, termasuk di Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat, yang terus meningkatkan kapasitas operasionalnya.
Baca Juga: Samudera Indonesia Tambah Armada Baru, Perkuat Ekspansi dan Akses ke Pasar Eropa
Menurut Bani, pelabuhan tersebut telah menerima satu unit alat bongkar muat Harbor Mobile Crane (HMC) pada akhir 2025 dan satu unit tambahan dijadwalkan tiba pada kuartal I 2026.
“Dengan tambahan dua alat bongkar muat tersebut, maka kegiatan operasional akan semakin bertambah,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













