kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.695.000   18.000   0,67%
  • USD/IDR 17.884   59,00   0,33%
  • IDX 6.466   64,24   1,00%
  • KOMPAS100 834   5,28   0,64%
  • LQ45 635   2,40   0,38%
  • ISSI 227   4,87   2,19%
  • IDX30 355   1,11   0,31%
  • IDXHIDIV20 431   1,29   0,30%
  • IDX80 95   0,51   0,54%
  • IDXV30 120   1,17   0,99%
  • IDXQ30 113   0,45   0,40%

Soal penghapusan Premium, YLKI: Memang sudah saatnya ditinggalkan masyarakat


Minggu, 15 November 2020 / 15:15 WIB
ILUSTRASI. Petugas melakukan pengisian bahan bakar sebuah angkutan kota (angkot) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Ciputat. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/foc.


Reporter: Dimas Andi | Editor: Tendi Mahadi

Dengan begitu, saat ini yang paling dibutuhkan adalah konsistensi regulasi dan sinergitas antar kementerian atau lembaga, termasuk pemerintah pusat. “Selama ini implementasi BBM ramah lingkungan justru terkendala adanya regulasi dan kebijakan yang tidak konsisten oleh pemerintah pusat,” imbuh Tulus.

YLKI juga menilai, di masa transisi penghapusan Premium, sudah seharusnya masyarakat diberi kemudahan-kemudahan seperti harga promo produk BBM berkualitas. Dalam hal ini, jangan sampai timbul asumsi bahwa BBM ramah lingkungan lebih mahal dari segi harga.

Baca Juga: Jangan tanya lagi! Freeport tak bangun smelter baru, cuma ekspansi smelter eksisting

Hal ini sebenarnya sudah dijalankan oleh Pertamina melalui berbagai promo harga BBM Pertamax dan Dexlite Series. Pertamina juga beberapa kali menjual produk Pertalite seharga Premium sebagai bagian Program Langit Biru.

“Masyarakat memang sensitif soal harga. Jika masih ada pilihan produk yang lebih murah, tentu mereka akan pilih itu,” tandas Tulus.

Selanjutnya: Bidik peluang permintaan energi dalam negeri, bisnis Elnusa (ELSA) terus mengalir

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×