Penulis: Chelsea Anastasia | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten konstruksi swasta, PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) terus memperkuat strategi efisiensi dan mengoptimalkan pengelolaan biaya dalam mengantisipasi dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap usaha konstruksinya.
Corporate Secretary Total Bangun Persada, Anggie S. Sidharta menjelaskan bahwa pelemahan kurs rupiah saat ini dapat memengaruhi biaya konstruksi, khususnya pada beberapa material dan komponen pendukung proyek.
Secara umum, Anggie menyebut perusahaan memang tidak memiliki eksposur langsung yang signifikan terhadap mata uang asing.
Namun demikian, lanjut dia, kenaikan harga material tertentu disebut tetap dapat memengaruhi biaya proyek secara tidak langsung.
Baca Juga: Total Bangun (TOTL) Akui Pelemahan Rupiah Mulai Mengerek Biaya Material Konstruksi
"Karena itu, perusahaan terus memperkuat efisiensi dan pengelolaan biaya sebagai langkah antisipasi terhadap dinamika pasar," jelas Anggie kepada Kontan, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, strategi pelaksanaan proyek yang disiplin juga dilakukan Total Bangun Persada untuk menyiasati dampak tekanan pada beberapa proyek imbas pelemahan rupiah.
Terkait penyesuaian atau eskalasi nilai proyek, Anggie menilai bahwa setiap proyek memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itu, penerapan penyesuaian dilakukan sesuai dengan ketentuan dan kesepakatan yang berlaku.
Baca Juga: Hingga Mei 2026, Total Bangun Persada (TOTL) Raih Kontrak Baru Rp 2,6 Triliun
Untuk menjaga margin dan profitabilitas proyek ke depan, Anggie membeberkan Total Bangun Persada akan terus menerapkan manajemen risiko, efisiensi operasional, hingga pengadaan proyek yang terencana.
"Strategi tersebut dilakukan perusahaan untuk menjaga kinerja operasional dan keuangan," imbuh Anggie.
Sebelumnya, Anggie menyebut pihaknya optimistis masih mampu meraih target perolehan kontrak baru sebesar Rp 4 triliun sampai Rp 5 triliun pada tahun ini.
Baca Juga: Total Bangun Persada (TOTL) Bidik Perolehan Kontrak Baru Rp 5 Triliun pada 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














