Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Havid Vebri
JAKARTA. Tak seperti komoditas dan otomotif, properti adalah sektor yang paling sulit mengalami diskon harga. Buktinya, di tengah perlambatan ekonomi ini, para pengembang (developer) masih berencana menaikkan harga rumah di tahun 2016. Tentunya, kenaikan harga ini menyesuaikan penurunan daya beli konsumen.
Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch memprediksi, harga rumah akan naik di tahun mendatang karena faktor kenaikan inflasi dan Upah Minimum Regional (UMR). Namun, kenaikan tidak signifikan seperti pada tahun 2013-tahun 2014.
“Prediksinya, harga rumah akan naik sekitar 10%-12% di semester II-2016,” kata Ali, kepada KONTAN, Selasa (1/12).
Sependapat, para pengembang menilai tidak pernah ada sejarah developer menggelar penurunan harga untuk rumah, justru harga properti terus naik ke atas. Cuncun Wijaya, Investor Relation Perusahaan PT Modernland Realty Tbk (MDRN) mengatakan, pihaknya akan menaikan harga rumah di tahun mendatang karena ada penambahan fasilitas seperti sarana mall dan rumah sakit.
“Kami akan menaikan harga rumah sekitar 5%-10% dari harga rumah tahun 2015,” ucap Cuncun. MDRN hanya sedikit menggerek kenaikan harga agar tidak menekan daya beli konsumen, karena semakin mahal harga rumah maka perusahaan akan sulit menjual rumah. Dampaknya, target pra penjualan atau marketing sales tidak tercapai.
Masyarakat yang belum memiliki rumah bisa bernafas lega. Pasalnya, Cuncun bilang, kenaikan harga rumah pada tahun mendatang tidak seperti kenaikan harga rumah yang mencapai 22% per unit pada tahun 2014. “Tahun depan, MDRN menargetkan pra penjualan di tahun 2016 akan lebih tinggi dibandingkan tahun ini,” tambahnya.
Adapun, Modernland Realty menargetkan pra penjualan sebesar Rp 4,1 triliun pada akhir tahun 2015 dengan realisasi penjualan sebesar Rp 2,8 triliun per September 2015. Perusahaan akan meluncurkan perumahan klaster baru di Jakarta Garden City untuk mencapai target pra penjualan. Saat ini, porsi penjualan rumah berkontribusi 50% terhadap total penjualan.
Hermawan Wijaya, Direktur dan Sekretaris Korporasi PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), menyampaikan, pihaknya juga berencana akan menggerek kenaikan harga rumah karena inflasi akan ikut naik di tahun mendatang, namun ia belum dapat memprediksi kenaikan harga tersebut. “Kedepan kami akan melanjutkan penjualan dari proyek yang sudah ada dan proyek baru,” ucapnya.
Kenaikan harga rumah ini sudah terjadi sejak akhir tahun 2015. Pada laporan Bank Indonesia (BI) tentang survei harga properti residensial kuartal III-2015 mencatat, harga rumah masih akan mengalami kenaikan 0,53% dengan indeks 189,40 di kuartal IV-2015 dibandingkan indeks 188,65 di kuartal III-2015.
Kenaikan harga rumah ini didorong naiknya harga bangunan, upah pekerja, dan kenaikan harga bahan bakar minyak. Alhasil, tipe rumah kecil, menengah dan besar terus mengalami kenaikan. Misalnya, harga rumah untuk tipe kecil akan naik 1,44% dengan indeks 211,82 pada kuartal IV-2015 dibandingkan indeks 208,51 di kuartal III-2015.
Kemudian, untuk dua jenis rumah lainnya yakni harga rumah untuk tipe menengah akan naik 0,38% dengan indeks 186,99 pada kuartal IV-2015 dibandingkan indeks 186,28 di kuartal III-2015. Serta, harga rumah untuk tipe besar akan naik 0,25% dengan indeks 167,54 pada kuartal IV-2015 dibandingkan indeks 167,11 di kuartal III-2015.
Wilayah yang mengalami kenaikan harga rumah adalah Batam sebagai kota industri mencatat peningkatan harga paling tinggi terumatam pada rumah tipe menengah. Alasannya, Batam sangat pesat akan pertumbuhan sektor industri yang dilengkapi dengan infrastruktur ini mendorong investor untuk melakukan investasi di sektor konstruksi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News