kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.045.000   6.000   0,20%
  • USD/IDR 16.809   26,00   0,15%
  • IDX 8.239   3,74   0,05%
  • KOMPAS100 1.157   -0,60   -0,05%
  • LQ45 833   -4,60   -0,55%
  • ISSI 294   1,23   0,42%
  • IDX30 441   -2,72   -0,61%
  • IDXHIDIV20 528   -5,30   -0,99%
  • IDX80 129   -0,37   -0,29%
  • IDXV30 144   -0,80   -0,56%
  • IDXQ30 142   -1,33   -0,93%

Tanpa Merger, Ini Konsep Penyelamatan Maskapai Pelat Merah yang Dinilai Cocok


Jumat, 27 Februari 2026 / 14:43 WIB
Tanpa Merger, Ini Konsep Penyelamatan Maskapai Pelat Merah yang Dinilai Cocok


Reporter: Leni Wandira | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana konsolidasi antara Garuda Indonesia, Pelita Air, dan Citilink dinilai bukan menjadi solusi utama untuk memperbaiki kinerja maskapai pelat merah.

Praktisi Aviasi Dian Ediono menilai penguatan industri penerbangan nasional tidak harus ditempuh melalui penggabungan entitas, melainkan melalui pengaturan peran yang saling melengkapi.

Menurut Dian, merger dalam konteks ini berpotensi membuat identitas Garuda Indonesia, Citilink, dan Pelita Air melebur serta kehilangan karakter bisnis masing-masing. Padahal, setiap fase krisis industri penerbangan justru membuka peluang untuk merancang ulang fondasi bisnis agar lebih relevan dengan kebutuhan pasar.

Baca Juga: Tarif Panel Surya RI di AS Tembus 104%, ESDM Cek Praktik Transshipment

“Di mana hadirnya integrasi maskapai bukan lagi sebuah pertanyaan ‘perlu atau tidak’, melainkan bagaimana bentuk terbaiknya,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (27/2/2026).

Ia mempertanyakan apakah konsep merger merupakan pilihan paling tepat atau justru terdapat alternatif lain yang lebih menguntungkan bagi ketiga maskapai sekaligus sektor penerbangan nasional. Salah satu opsi yang ia tawarkan adalah konsep 1 Group 3 Tier maskapai nasional.

“Saya ingin menggambarkan konsep yang tepat dan dapat menjadi solusi bagi dunia maskapai nasional, yaitu satu Group yang memiliki 3 Tier Maskapai Nasional. Konsep ini digambarkan seperti piramida dengan urutan puncak yaitu Garuda Indonesia (Premium), kemudian pada bagian tengah yaitu Pelita Air (Mid-Service), dan bagian bawah yaitu Citilink (LCC),” ujarnya.

Transisi dari struktur dua tingkat menjadi tiga tingkat dinilai dapat menutup celah pasar yang selama ini dimanfaatkan maskapai asing, sekaligus menyeimbangkan layanan rute dengan harga yang lebih efisien serta konektivitas yang berkelanjutan.

Pada puncak piramida, Garuda Indonesia diposisikan sebagai maskapai premium dengan target utama segmen pemerintahan, diplomat, BUMN, dan traveler korporasi kelas atas. Namun, Garuda diingatkan untuk keluar dari perang harga dan menghindari kompromi biaya dengan tetap berfokus pada standar SkyTeam.

Baca Juga: BPDP Dorong UMKM Terlibat dalam Program Peremajaan Sawit Rakyat

Untuk lapisan menengah, Pelita Air diproyeksikan sebagai “The Value Bridge” yang menjembatani segmen premium dan LCC. Maskapai ini diarahkan menyasar pelanggan industri energi, pertambangan, konstruksi, serta traveler kelas menengah sekunder, dengan layanan terjangkau namun tetap mengusung standar premium.

Sementara itu, Citilink ditempatkan di lapisan bawah sebagai “The Value Engine”. Maskapai berbiaya hemat ini tetap difokuskan pada segmen sensitif harga, khususnya untuk penerbangan domestik dan internasional jarak pendek hingga menengah dengan armada Airbus A320.

“Dengan menawarkan harga yang lebih terjangkau, para pelanggan yang menyukai perjalanan santai sangat cocok untuk para pekerja atau pelanggan yang sensitif terhadap harga tiket,” ujarnya.

Dari sisi operasional, konsep 1 Group 3 Tier dinilai mampu menekan kanibalisme internal sekaligus mengoptimalkan efisiensi melalui integrasi perawatan pesawat (MRO), sentralisasi pengadaan, infrastruktur teknologi informasi, serta pelatihan kru dan pilot. Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat kualitas layanan, mulai dari kesiapan armada hingga pengalaman pelanggan.

Dalam perspektif strategi pertahanan, sinergi ini diyakini dapat memperkokoh posisi maskapai nasional sebagai pilihan utama masyarakat sekaligus membatasi ruang gerak kompetitor asing dalam menguasai pasar penerbangan domestik.

Baca Juga: Perusahaan Singapura First Resources Bayar US$5,6 Juta ke RI Terkait Lahan Sawit

Dian menegaskan, maskapai nasional saat ini tidak membutuhkan penyederhanaan pasar melalui penggabungan entitas, melainkan perluasan pasar ke seluruh segmen penumpang. Dengan konsep 1 Group 3 Tier, sektor penerbangan nasional dinilai dapat memperkuat layanan udara, memperluas kapasitas nasional, serta tetap menjaga ciri khas masing-masing maskapai.

Dengan demikian, pendekatan ini dipandang sebagai langkah strategis untuk menavigasi dinamika industri penerbangan Indonesia yang semakin kompleks, sekaligus mendukung agenda pemerintah dalam mewujudkan konektivitas udara yang inklusif dan berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Procurement Strategies for Competitive Advantage (PSCA) AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×