kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Tantangan berat industri komponen di 2015


Senin, 01 Desember 2014 / 10:26 WIB
Tantangan berat industri komponen di 2015
ILUSTRASI. Promo Traveloka 12 Juni - 9 Juli 2023, Diskon Xperience 70% + Kupon Rp 400.000


Reporter: Benediktus Krisna Yogatama | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Iklim investasi sektor industri komponen otomotif mulai mendapatkan tekanan. Pelemahan pertumbuhan penjualan mobil serta nilai tukar rupiah yang loyo membuat sektor pendukung otomotif berfikir matang untuk menambah investasi.

Penjualan mobil 2015 diproyeksikan akan stagnan alias tak banyak berubah dari realisasi tahun 2014. Jika ini terjadi, permintaan komponen dan suku cadang dipastikan juga sulit berkembang.

Ni Luh Made Kusumawati, Head of Public Relation and Corporate Secretary PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) bilang, setiap ekspansi bisnis yang dilakukan perusahaan akan sejalan dengan pertumbuhan otomotif. "Jika stagnan, kami tidak bisa jor-joran investasi," terang Made kepada KONTAN, Minggu (30/11).

Melihat ini, Made memperkirakan, rencana ekspansi tahun 2015 tak akan sebesar ekspansi perseroan tahun ini. Selain mempertimbangkan penjualan produk otomotif, dalam melakukan ekspansi, perusahan ini juga mempertimbangkan nilai tukar kurs rupiah.

Jika nilai tukar rupiah melemah, biaya produksi juga bisa membengkak. Sebab, kebanyakan bahan baku komponen kendaraan bermotor masih impor. Bahkan, ada komponen otomotif yang bahan bakunya 70% impor.

Tak hanya bagi perusahaan komponen skala besar, perusahaan komponen skala kecil dan menengah mengeluhkan hal serupa. M Kosasih, Ketua Koperasi Industri Kecil dan Menengah Komponen Otomotif Indonesia (KIKO), bilang, kini, anggotanya wait and see sebelum menambah investasi. "Kami mesti lihat situasi terlebih dahulu," kata Kosasih kepada KONTAN, Minggu (30/11).

Ia menerangkan, selain adanya pelemahan pertumbuhan penjualan produk otomotif serta pelemahan nilai tukar rupiah, pihaknya juga mengeluhkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Sebab, kenaikan harga BBM bersubsidi mempengaruhi biaya distribusi dan mengganggu daya beli.

Melihat kondisi ini, ia memproyeksikan pertumbuhan pasar komponen di 2015 akan melemah dibandingkan pertumbuhan bisnis komponen 2014 yang bisa 10%-15%. "Kalaupun tumbuh kami perkirakan tahun 2015 tumbuh hanya 5%," jelas Kosasih.

Saleh Husin, Menteri Perindustrian mengimbau agar industri otomotif menggenjot ekspor saat penjualan otomotif domestik stagnan. Jika ekspor naik, permintaan komponen juga bisa ikut naik.

Selain itu, industri otomotif dan komponen harus memperkuat dan melakukan riset di Indonesia. Lewat riset ini, Saleh meminta ada peningkatan penggunaan produk dalam negeri.   

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×