Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Tendi Mahadi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pakar otonomi daerah Djohermansyah Djohan menyatakan telah terjadi pergeseran paradigma, dimana Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) tidak lagi sekadar berorientasi pada keuntungan, melainkan juga berperan sebagai motor penggerak pembangunan daerah yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi.
“BUMD hari ini dituntut tidak hanya sehat secara bisnis, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan, serta menjunjung tinggi prinsip tata kelola yang baik,” ujar mantan Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri tersebut.
Lebih lanjut, Djohermansyah mengatakan ada sejumlah temuan strategis yang mencerminkan perkembangan signifikan sektor BUMD di Indonesia.
Temuan pertama, menunjukkan bahwa inovasi kini telah menjadi arus utama dalam pengelolaan BUMD. Mayoritas peserta memperlihatkan peningkatan kinerja yang signifikan, baik dari sisi operasional, layanan publik, maupun kontribusi terhadap pendapatan daerah.
Baca Juga: Aprisindo: RI Produsen Alas Kaki Terbesar Ketiga Dunia, Ekspor Tembus 601 Juta Pasang
“Banyak BUMD yang berhasil naik kelas, dari sebelumnya berada pada kategori menengah menjadi entitas dengan performa unggul. Ini menunjukkan adanya transformasi nyata yang didorong oleh inovasi yang berkelanjutan,” jelas Djohermansyah.
Inovasi yang dimaksud tidak hanya terbatas pada pengembangan produk atau layanan, tetapi juga mencakup efisiensi operasional, penguatan model bisnis, serta peningkatan kualitas pelayanan publik.
Hal ini menjadi indikator bahwa BUMD semakin adaptif dalam menghadapi dinamika ekonomi dan kebutuhan masyarakat.
Temuan strategis kedua, adalah percepatan transformasi digital, khususnya di sektor BLUD seperti Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Dalam beberapa tahun terakhir, transformasi digital di sektor kesehatan daerah mengalami perkembangan yang sangat signifikan.
Djohermansyah mengungkapkan bahwa sejumlah RSUD telah mampu menghadirkan layanan yang kompetitif, bahkan setara dengan rumah sakit swasta maupun bertaraf internasional.
“Transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Kami melihat banyak RSUD yang sudah mengintegrasikan sistem layanan berbasis digital, mulai dari rekam medis elektronik, sistem antrean online, hingga layanan telemedicine,” ujarnya.
Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, tetapi juga memperkuat efisiensi dan transparansi dalam pengelolaan rumah sakit. Digitalisasi juga membuka peluang bagi peningkatan akses layanan kesehatan, terutama di daerah yang sebelumnya memiliki keterbatasan fasilitas.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Industri Keramik Dalam Negeri Masih Aman
Temuan ketiga, yang tidak kalah penting adalah adanya korelasi kuat antara komitmen kepala daerah dengan kinerja BUMD. BUMD yang mendapatkan dukungan aktif dari pemerintah daerah cenderung menunjukkan performa yang jauh lebih baik dibandingkan yang tidak.
“Peran kepala daerah sebagai pembina sangat menentukan arah dan keberhasilan BUMD. Ketika ada komitmen yang kuat, dukungan kebijakan, serta fasilitasi yang tepat, maka BUMD dapat berkembang secara optimal,” kata Djohermansyah.
Dukungan tersebut dapat berupa penyediaan regulasi yang kondusif, penguatan permodalan, pembinaan manajerial, hingga pengawasan yang efektif.













