kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Tren harga CPO masih diramal menanjak beberapa bulan ke depan


Kamis, 30 Juni 2011 / 18:49 WIB
ILUSTRASI. Google Meet bisa digunakan via laptop tanpa perlu mengunuh aplikasinya terlebih dahulu.


Reporter: Veri Nurhansyah Tragistina | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Setelah mengalami penurunan sepanjang pekan lalu, harga minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) kembali menguat. Berdasarkan data Bloomberg, harga CPO pengiriman September 2011 di Bursa Derivatif Malaysia per 30 Juni 2011 sudah mencapai RM 3.126 atau US$ 1.037 per metrik ton (MT).

Level harga itu tentu lebih tinggi ketimbang beberapa hari lalu. Pasalnya, pada tanggal 27 Juni kemarin, harga CPO sempat menyentuh level terendah dalam delapan bulan terakhir yaitu di level RM 3.042 per metrik ton (MT) atau US$ 994,6 per MT, yang merupakan imbas dari penurunan harga minyak bumi dalam beberapa pekan terakhir.

Mohd Ghozali Bin Yahya, Head of Plantation Upstream Indonesia PT Minamas Plantation menambahkan, tren harga CPO memang akan terus naik di bulan-bulan selanjutnya. Pasalnya, CPO merupakan bahan baku utama industri makanan dunia. Di sisi lain, kebutuhan makanan masyarakat terutama negara-negara muslim akan terus meningkat terutama saat menghadapi bulan puasa.

Kondisi itu diperkuat oleh semakin tingginya kebutuhan CPO dari India dan China. Pasalnya, dua negara ini sedang gencar-gencarnya memacu industri makanannya. "Permintaan akan terus naik, sehingga harga pun akan mengikuti," tutur Ghozali kepada KONTAN, di Jakarta, Kamis (30/6). Harga CPO di bulan-bulan selanjutnya, lanjut Ghozali, bisa lebih dari RM 3.200 per MT.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×